Skip to main content

Situasi politik nasional memanas, pasar obligasi terancam

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar obligasi Indonesia tengah berada dalam ancaman. Belum usai sentimen negatif dari global, pasar obligasi kali ini tertekan oleh situasi politik dalam negeri yang memanas.

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana menyampaikan, suhu politik Indonesia tengah meningkat pasca pengumuman hasil pilpres pada Selasa (21/5). 

Hal ini tentu berdampak negatif bagi pasar obligasi domestik, walaupun sentimen ini diyakini bersifat temporer.

Sebagai catatan, sentimen negatif tersebut mendorong kenaikan yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun ke level 8,06% pada hari ini. Artinya, sudah empat hari secara beruntun yield SUN 10 tahun bertengger di area 8%.

Beruntung, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) masih mampu menguat tipis 0,03% di hari ini ke level 248,07. Namun, tetap saja, dalam satu pekan terakhir indeks obligasi Indonesia tersebut terkoreksi 0,29%.

Memanasnya situasi politik Indonesia jelas menambah panjang deretan sentimen negatif yang menghantam pasar obligasi. 

“Dari eksternal, perang dagang antara AS dan China belum menunjukkan tanda-tanda mereda secara berkelanjutan,” kata Fikri, Rabu (22/5).

Belum lagi, konflik geopolitik di Iran masih terjadi, sehingga berpengaruh terhadap pergerakan harga minyak dunia. Jika harga minyak dunia kembali meningkat, hal ini akan memberatkan rupiah dari sisi fundamental. Pasar obligasi pun kurang diuntungkan manakala kurs rupiah melemah.

Asal tahu saja, kurs rupiah di pasar spot hari ini melemah 0,31% ke level Rp 14.525 per dollar AS.

Pelaku pasar modal Anil Kumar menambahkan, arah pasar obligasi nasional cenderung sejalan dengan pergerakan rupiah. Namun, pelemahan rupiah pun tak hanya dipicu oleh faktor politik dalam negeri.

Data-data ekonomi Indonesia akhir-akhir ini juga kurang mendukung bagi pergerakan rupiah di pasar. Misalnya, data neraca dagang Indonesia di bulan April yang mengalami defisit sebesar US$ 2,5 miliar. “Belum ada kebijakan ekonomi yang berdampak secara struktural,” ujarnya, hari ini.

Beragam sentimen negatif tadi juga mengurangi minat investor di pasar obligasi. Fenomena ini terlihat dari penawaran masuk pada lelang SUN kemarin yang tergolong rendah, yakni sebesar Rp 26,20 triliun.

Investor asing tampak masih enggan masuk ke pasar obligasi Indonesia di tengah badai sentimen negatif.

Mengutip data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemkeu, nilai kepemilikan asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) tercatat sebesar Rp 949,69 triliun hingga perdagangan Selasa (21/5). Angka ini turun Rp 10,65 triliun dibandingkan akhir April lalu.

Tulisan diatas juga dapat dilihat pada tautan berikut:
https://investasi.kontan.co.id/news/situasi-politik-nasional-memanas-pasar-obligasi-terancam

Comments

Popular posts from this blog

Ketidakpastian Global Dinilai Tak Ganggu Capital Inflow ke Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Ketidakpastian global beserta perlambatan ekonomi dunia tahun ini diyakini tidak banyak mengganggu aliran modal asing masuk ke negara-negara berkembang atau emerging markets seperti Indonesia. Berdasarkan Laporan Perekonomian Terkini Bank Indonesia, sejumlah strategi pelonggaran kebijakan moneter hampir di seluruh belahan dunia belum membuahkan hasil bagi perbaikan ekonomi dunia. Laporan itu memerinci, ketegangan ekonomi akibat perang dagang membuat rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini hanya akan mencapai 3,0% (yoy) dari tahun sebelumnya 3,6% (yoy) berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF). Adapun perbaikan diyakini mulai terjadi pada 2020 dengan perkiraan naik tipis 3,1% (yoy). Sementara itu, Bank Indonesia sendiri masih cukup optimistis memprakirakan ekonomi dunia tahun ini bisa mencapai 3,2% (yoy), dan akan membaik atau rebound pada 2020 menjadi 3,3% (yoy). Kondisi tersebut dipicu oleh menurunnya volume perdagangan dunia, alhasil ...

CDS Indonesia kembali naik dipicu situasi politik dalam negeri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sentimen global masih kuat menekan persepsi risiko investasi Indonesia bergerak ke level yang semakin buruk. Apalagi, kondisi politik dalam negeri yang memanas juga turut mengikis kepercayaan investor asing. Mengutip Bloomberg, indeks persepsi risiko atau Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun berada di level 108,75 pada perdagangan, Jumat (24/5). Dalam sepekan level tersebut naik 3,46 basis poin dan semakin meninggalkan level terendahnya di 82,40 sejak Maret lalu. Kompak, CDS Indonesia tenor 10 tahun juga cenderung naik ke level 183,00 pada perdagangan Kamis (23/5). CDS 10 tahun ini juga semakin meninggalkan level terendahnya di 157,85 sejak April lalu. Sekadar informasi, level CDS yang semakin tinggi menunjukkan kekhawatiran investor asing terhadap investasi di pasar Indonesia semakin tinggi. Research Analyst Capital Asset Management Desmon Silitonga mengatakan kondisi politik dalam negeri yang sempat memanas memang mempengaruhi level CDS ja...

PR Otoritas Fiskal dan Moneter Pasca Paket Kebijakan Ekonomi

Sinyal positif mulai disebarkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia seiring dengan paket kebijakan ekonomi I dan II yang telah diumumkan pada 9 dan 29 September lalu. Walaupun dinilai agak terlambat, namun setidaknya paket kebijakan yang diumumkan mulai menampakkan arah yang jelas, utamanya dalam mendorong perekonomian di sisi penawaran (supply side). Disamping itu, integrasi sisi fiskal dan moneter yang dalam satu tahun belakangan terlihat kurang padu, mulai memperlihatkan keselarasan bauran kebijakan sesuai dengan daya jangkaunya masing-masing. Walaupun begitu, baik pemerintah dan Bank Indonesia masih menyisakan beberapa pekerjaan rumah (PR) guna mendorong perekonomian Indonesia menjadi lebih inklusif dan berkesinambungan. PR Bagi Otoritas Fiskal Dari sisi pemerintah (atau dari sisi fiskal), paket kebijakan diwarnai oleh deregulasi utamanya bagi sektor investasi. Sayangnya, sepertinya hal ini baru akan berdampak dalam jangka menengah-panjang. Ini dikarenakan deregulasi lebih diarahka...