Skip to main content

Yield beranjak naik, korporasi tetap gencar terbitkan obligasi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah yield obligasi negara beranjak naik, korporasi tetap gencar menerbitkan surat utang meski yield obligasi korporasi juga ikut terkerek.

Mengutip Bloomberg, yield surat utang negara tenor tiga tahun bertengger di 7,21% per Senin (13/5). Angka tersebut naik 0, 28% dari hari sebelumnya dan naik 0,69% dalam sepekan.

Tren kenaikan yield tersebut juga membuat yield atau kupon obligasi yang ditawarkan korporasi ikut naik. Fikri C. Permana, ekonom Pefindo mengatakan jika yield obligasi negara naik maka biasanya yield obligasi korporasi akan ikut naik lebih tinggi.

"Jika yield surat utang negara naik 50 basis poin, yield surat utang korporasi bisa naik 60-70 bps," kata Fikri, Senin, (13/5).

Lebih tingginya yield surat utang korporasi dibanding surat utang negara sering terjadi untuk mengompensasi faktor risiko yang lebih tinggi di obligasi korporasi.

Meski yield sedang dalam tren kenaikan, kebutuhan korporasi untuk membiayai usaha dan membayar obligasi yang jatuh tempo menjadi alasan utama penerbitan obligasi korporasi di tahun ini akan tetap stabil bertumbuh.

Baru saja, PT Federal International Finance akan menawarkan obligasi berkelanjutan IV Feder International Finance mulai dari 13-27 Mei 2019. Obligasi tersebut ditawarkan dalam dua seri, yaitu seri A dengan tenor 370 hari dengan tingkat bunga 7,25%-8%. Selanjutnya, seri B bertenor 36 bulan dengan tawaran bunga 8%-9%.

Direktur Keuangan FIF Hugeng Gozali mengatakan tujuan penerbitan obligasi ini untuk menunjang pembiayaan sepeda motor dan untuk modal kerja. "Penerbitan obligasi kami pilih karena situasi dan kondisi pasar obligasi masih kondusif," kata Hugeng.

Fikri mengatakan penerbitan surat utang korporasi bisa saja tertahan bila yield terus bergerak naik. Namun, Fikri memproyeksikan penerbitan obligasi korporasi di tahun ini akan tetap tumbuh cenderung stabil paling tidak menyamai penerbitan di tahun lalu karena didukung refinancing obligasi korporasi di tahun ini.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per 18 April 2019, jumlah penerbitan obligasi korporasi sudah mencapai 25,39 triliun.

Stabilnya pertumbuhan obligasi di tahun ini juga akan bergantung pada nilai tukar rupiah. Fikri menyebut jika nilai tukar rupiah terhadap dollar AS stabil maka yield SUN akan bergerak stabil dan penerbitan obligasi korporasi juga akan stabil di tahun ini.

"Tahun ini penerbitan obligasi korporasi bisa lebih baik dari tahun lalu, karena kenaikan yield obligasi negara tidak setinggi seperti di tahun lalu di mana di awal tahun 2017 yield berada di 6,5% dan berakhir 8,1% di akhir tahunnya," kata Fikri.

Meski begitu, tantangan yield beranjak naik lebih tinggi masih ada seiring dengan kondisi geopolitik perang dagang AS dan China. Namun, Fikri optimistis perang dagang tidak akan membuat nilai tukar rupiah bervolatilitas tinggi karena terbantu cadangan devisa Indonesia yang lebih baik. Dengan nilai tukar rupiah yang tak begitu bergerak liar maka volatiliats yield juga bisa terjaga.

Head of Fixed Income Fund Manager Prospera Asset Management Eric Sutedja mengatakan meski yield SUN beranjak naik, ke depan penerbitan obligasi korproasi masih akan tetap ramai.

Salah satu sentimen positifnya adalah pertumbuhan ekonomi di tahun ini diperkirakan akan lebih baik dari tahun lalu, meski hingga kuartal I 2019 pertumbuhan ekonomi masih kurang memuaskan. "Pertumbuhan investasi juga akan membaik di semester II 2019," kata Eric.

Di akhir tahun, Eric memproyeksikan yield SUN 10 tahun dapat mencapai 7,5%. Namun, tak dipungkiri pelaku pasar masih harus mewaspadai prospek pelemahan rupiah jika melemah ke Rp 14.500 per dollar AS.

Pasalnya, situasi tersebut bisa melemahkan daya beli masyarakat dan memicu outflow asing dan berdampak negatif pada kinerja korporasi dan penerbitan obligasi korporasi.



Tulisan diatas juga dapat diilihat pada tautan berikut:
https://investasi.kontan.co.id/news/yield-beranjak-naik-korporasi-tetap-gencar-terbitkan-obligasi

Comments

Popular posts from this blog

Ketidakpastian Global Dinilai Tak Ganggu Capital Inflow ke Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Ketidakpastian global beserta perlambatan ekonomi dunia tahun ini diyakini tidak banyak mengganggu aliran modal asing masuk ke negara-negara berkembang atau emerging markets seperti Indonesia. Berdasarkan Laporan Perekonomian Terkini Bank Indonesia, sejumlah strategi pelonggaran kebijakan moneter hampir di seluruh belahan dunia belum membuahkan hasil bagi perbaikan ekonomi dunia. Laporan itu memerinci, ketegangan ekonomi akibat perang dagang membuat rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini hanya akan mencapai 3,0% (yoy) dari tahun sebelumnya 3,6% (yoy) berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF). Adapun perbaikan diyakini mulai terjadi pada 2020 dengan perkiraan naik tipis 3,1% (yoy). Sementara itu, Bank Indonesia sendiri masih cukup optimistis memprakirakan ekonomi dunia tahun ini bisa mencapai 3,2% (yoy), dan akan membaik atau rebound pada 2020 menjadi 3,3% (yoy). Kondisi tersebut dipicu oleh menurunnya volume perdagangan dunia, alhasil ...

CDS Indonesia kembali naik dipicu situasi politik dalam negeri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sentimen global masih kuat menekan persepsi risiko investasi Indonesia bergerak ke level yang semakin buruk. Apalagi, kondisi politik dalam negeri yang memanas juga turut mengikis kepercayaan investor asing. Mengutip Bloomberg, indeks persepsi risiko atau Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun berada di level 108,75 pada perdagangan, Jumat (24/5). Dalam sepekan level tersebut naik 3,46 basis poin dan semakin meninggalkan level terendahnya di 82,40 sejak Maret lalu. Kompak, CDS Indonesia tenor 10 tahun juga cenderung naik ke level 183,00 pada perdagangan Kamis (23/5). CDS 10 tahun ini juga semakin meninggalkan level terendahnya di 157,85 sejak April lalu. Sekadar informasi, level CDS yang semakin tinggi menunjukkan kekhawatiran investor asing terhadap investasi di pasar Indonesia semakin tinggi. Research Analyst Capital Asset Management Desmon Silitonga mengatakan kondisi politik dalam negeri yang sempat memanas memang mempengaruhi level CDS ja...

PR Otoritas Fiskal dan Moneter Pasca Paket Kebijakan Ekonomi

Sinyal positif mulai disebarkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia seiring dengan paket kebijakan ekonomi I dan II yang telah diumumkan pada 9 dan 29 September lalu. Walaupun dinilai agak terlambat, namun setidaknya paket kebijakan yang diumumkan mulai menampakkan arah yang jelas, utamanya dalam mendorong perekonomian di sisi penawaran (supply side). Disamping itu, integrasi sisi fiskal dan moneter yang dalam satu tahun belakangan terlihat kurang padu, mulai memperlihatkan keselarasan bauran kebijakan sesuai dengan daya jangkaunya masing-masing. Walaupun begitu, baik pemerintah dan Bank Indonesia masih menyisakan beberapa pekerjaan rumah (PR) guna mendorong perekonomian Indonesia menjadi lebih inklusif dan berkesinambungan. PR Bagi Otoritas Fiskal Dari sisi pemerintah (atau dari sisi fiskal), paket kebijakan diwarnai oleh deregulasi utamanya bagi sektor investasi. Sayangnya, sepertinya hal ini baru akan berdampak dalam jangka menengah-panjang. Ini dikarenakan deregulasi lebih diarahka...