Skip to main content

CDS berpotensi turun jika suku bunga AS tidak naik

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren kenaikan indeks persepsi risiko atau Credit Default Swap (CDS) diproyeksikan bisa menurun jika The Fed tidak menaikkan tingkat suku bunga acuannya.

CDS Indonesia tenor 5 tahun berada di level 108,75 pada perdagangan, Jumat (24/5). Dalam sepekan level tersebut naik 3,46 basis poin dan semakin meninggalkan level terendahnya di 82,40 sejak Maret lalu.

Kompak, CDS Indonesia tenor 10 tahun juga cenderung naik ke level 183,00 pada perdagangan Kamis (23/5). CDS 10 tahun ini juga semakin meninggalkan level terendahnya di 157,85 sejak April lalu.

Ekonom Pefindo Fikri C. Permana memproyeksikan, ke depan CDS berpotensi turun, karena kini yield US Treasury dalam tren menurun akibat perekonomian AS yang tak signifikan tumbuh dan kepastian The Fed yang mengatakan akan menahan kenaikan tingkat suku bunga acuannya.

"Harusnya ke depan level CDS bisa turun karena sentimen di emerging market telah membaik dengan terlaksananya pemilu di Indonesia dan India, meski di Indonesia sempat terjadi ricuh tapi kini mulai tertangani," kata Fikri, Jumat (24/5).

Selain itu, tensi perang dagang AS dan China yang berlarut membuat pelaku pasar sudah berancang-ancang melakukan priced in.

Research Analyst Capital Asset Management Desmon Silitonga memproyeksikan ke depan CDS Indonesia juga berpeluang untuk turun meski tekanan perang dagang AS dan China masih menghantui.

Namun, Desmon optimistis potensi penurunan suku bunga AS di tahun ini bisa meredam kenaikan CDS Indonesia.

"Harusnya tren CDS bisa turun dan tidak kembali naik ke level 200 seperti di tahun lalu karena terpukul sentimen perang dagang sekaligus kenaikan suku bunga AS, tahu ini beda cerita," kata Desmon.

Namun, sejumlah tantangan dari dalam negeri seperti defisit neraca perdagangan juga berpotensi memberatkan CDS untuk turun. "Bagaimana bisa surplus ini tantangan ke depan," kata Desmon.

Akibat naiknya CDS, Desmon mencatat asing net sell sekitar Rp 5,9 triliun di Mei dan April.

Desmon memproyeksikan asing kembali lakukan net buy bila rupiah stabil di Rp 14.300 per dollar AS. Di samping itu, yield surat utang Indonesia saat ini paling menarik di wilayah Asia Pasifik mengalahkan yield India.

"Yield Indonesia paling tinggi spread dengan US Treasury tenor 10 tahun posisinya beda 530 basis poin, harusnya dengan tawaran ini asing masuk lagi," kata Desmon.

Di akhir tahun Desmon memproyeksikan yield acuan tenor 10 tahun Indonesia berada di 7,2%-7,5% dengan asumsi rupiah stabil di Rp 14.000. Sementara, Fikri memproyeksikan yield di akhir tahun di 7,9%-8% sambil melihat perkembangan pasar.



Tulisan diatas juga dapat dilihat pada tautan berikut:

Comments

Popular posts from this blog

Ketidakpastian Global Dinilai Tak Ganggu Capital Inflow ke Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Ketidakpastian global beserta perlambatan ekonomi dunia tahun ini diyakini tidak banyak mengganggu aliran modal asing masuk ke negara-negara berkembang atau emerging markets seperti Indonesia. Berdasarkan Laporan Perekonomian Terkini Bank Indonesia, sejumlah strategi pelonggaran kebijakan moneter hampir di seluruh belahan dunia belum membuahkan hasil bagi perbaikan ekonomi dunia. Laporan itu memerinci, ketegangan ekonomi akibat perang dagang membuat rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini hanya akan mencapai 3,0% (yoy) dari tahun sebelumnya 3,6% (yoy) berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF). Adapun perbaikan diyakini mulai terjadi pada 2020 dengan perkiraan naik tipis 3,1% (yoy). Sementara itu, Bank Indonesia sendiri masih cukup optimistis memprakirakan ekonomi dunia tahun ini bisa mencapai 3,2% (yoy), dan akan membaik atau rebound pada 2020 menjadi 3,3% (yoy). Kondisi tersebut dipicu oleh menurunnya volume perdagangan dunia, alhasil ...

CDS Indonesia kembali naik dipicu situasi politik dalam negeri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sentimen global masih kuat menekan persepsi risiko investasi Indonesia bergerak ke level yang semakin buruk. Apalagi, kondisi politik dalam negeri yang memanas juga turut mengikis kepercayaan investor asing. Mengutip Bloomberg, indeks persepsi risiko atau Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun berada di level 108,75 pada perdagangan, Jumat (24/5). Dalam sepekan level tersebut naik 3,46 basis poin dan semakin meninggalkan level terendahnya di 82,40 sejak Maret lalu. Kompak, CDS Indonesia tenor 10 tahun juga cenderung naik ke level 183,00 pada perdagangan Kamis (23/5). CDS 10 tahun ini juga semakin meninggalkan level terendahnya di 157,85 sejak April lalu. Sekadar informasi, level CDS yang semakin tinggi menunjukkan kekhawatiran investor asing terhadap investasi di pasar Indonesia semakin tinggi. Research Analyst Capital Asset Management Desmon Silitonga mengatakan kondisi politik dalam negeri yang sempat memanas memang mempengaruhi level CDS ja...

PR Otoritas Fiskal dan Moneter Pasca Paket Kebijakan Ekonomi

Sinyal positif mulai disebarkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia seiring dengan paket kebijakan ekonomi I dan II yang telah diumumkan pada 9 dan 29 September lalu. Walaupun dinilai agak terlambat, namun setidaknya paket kebijakan yang diumumkan mulai menampakkan arah yang jelas, utamanya dalam mendorong perekonomian di sisi penawaran (supply side). Disamping itu, integrasi sisi fiskal dan moneter yang dalam satu tahun belakangan terlihat kurang padu, mulai memperlihatkan keselarasan bauran kebijakan sesuai dengan daya jangkaunya masing-masing. Walaupun begitu, baik pemerintah dan Bank Indonesia masih menyisakan beberapa pekerjaan rumah (PR) guna mendorong perekonomian Indonesia menjadi lebih inklusif dan berkesinambungan. PR Bagi Otoritas Fiskal Dari sisi pemerintah (atau dari sisi fiskal), paket kebijakan diwarnai oleh deregulasi utamanya bagi sektor investasi. Sayangnya, sepertinya hal ini baru akan berdampak dalam jangka menengah-panjang. Ini dikarenakan deregulasi lebih diarahka...