Skip to main content

SBN Ritel : Target Indikatif Masih Bisa Dicapai

Bisnis.com, JAKARTA— Target indikatif penjualan instrumen surat berharga negara ritel seri-seri berbasis tabungan masih bisa dicapai oleh pemerintah.

Hal itu masih dimungkinkan kendati diperkirakan akan terhambat oleh naiknya tingkat konsumsi masyarakat selama periode Ramadan dan lebaran.

Pemerintah melalui kementerian keuangan pada Jumat (3/5/2019) kembali menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara berbasis tabungan dengan seri ST004. Bulan lalu, pemerintah juga menerbitkan SBN konvensional dengan seri SBR006.

Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), Luky Alfirman mengatakan, target ST-004 senilai Rp2 triliun tergolong moderat dan mirip dengan seri sebelumnya.

Luky mengharapkan dengan asumsi adanya Tunjangan Hari Raya (THR), masyarakat bisa mulai menyisihkan untuk berinvestasi lebih besar.

Namun, kata Luky, hal itu memang tidak bisa langsung direalisasikan, dengan mempertimbangkan tingginya tingkat konsumsi menjelang Ramadan.

 "Kami memang memperhitungkan THR, tapi kita tahu konsumsi juga cukup tinggi ketika masa Ramadan. Makanya target cukup moderat sebesar Rp2 triliun,"kata Luky Jumat (5/3/2019).

Selain itu, Luky menyebutkan penawaran tingkat kupon ST004 dipengaruhi oleh sentimen eksternal.

Keputusan The Fed dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (1/5), di luar ekspektasi pasar yang memprediksi ada pemangkasan suku bunga.

Selanjutnya dari sisi internal, Bank Indonesia juga mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7-DRR di level 6 persen.

Adapun tingkat kupon yang diberikan untuk instrument ST004 sebesar 7,95 persen, serupa dengan Savings Bond Ritel (SBR) seri 006 (SBR006). Namun memang lebih rendah dibandingkan ST003 dan SBR005 sebesar 8,15 persen.

Fikri C.Permana, Analis Pefindo mengatakan prospek penyerapan ST004 masih positif, meskipun dengan adanya tren penurunan yield, khususnya dikarenakan spread (basis poin) yang semakin turun dari suku bunga acuan.

Fikri juga meyakini nilai tersebut, wajar dicapai dengan melihat bahwa SBN tersebut masih tergolong baru, dan pemerintah cenderung memberikan literasi kepada publik.

Apalagi, kata Fikri, berkaca dari nilai penyerapan seri sebelumnya yang berada di atas Rp2 triliun. Fikri juga masih berharap kaum millenials akan menjadi pembeli dominan, walau secara nilai masih kalah dengan baby boomers.

Fikri tidak menampik bahwa nilai penyerapan ST004 akan lebih rendah dibandingkan SBR005, dengan adanya bulan Ramadan, pengetahuan terhadap produk syariah yang relatif sedikit lebih rendah dibandingkan konvensional, serta tidak adanya fitur penjualan di pasar sekunder.

“Menurut kami dengan kupon 7.95 persen dan fitur lain yang relatif sama dengan SBN ritel lain, ditambah  label sukuk (syariah), keliatannya target indikatif Rp2 triliun akan tercapai,bahkan lebih,” jelasnya Minggu (5/5/2019).

Fikri juga merasa bahwa rencana penerbitan SBN ritel oleh pemerintah hingga 10 kali pada tahun ini masih realistis. Hal itu didasarkan pada jumlah pendapatan per kapita masyarakat Indonesia per tahunnya sebesar 56 juta, dan jumlah penduduk 264 juta orang.



Tulisan diatas juga dapat dilihat pada tautan berikut:
https://market.bisnis.com/read/20190505/92/918747/sbn-ritel-target-indikatif-masih-bisa-dicapai

Comments

Popular posts from this blog

Investor Takut, Penawaran di Lelang SUN Menciut

Bisnis.com, JAKARTA — Kekhawatiran investor terhadap penanganan penyebaran COVID-19 di Indonesia membuat jumlah penawaran yang masuk dalam lelang surat utang negara (SUN) kian menciut. Dalam lelang yang digelar hari ini, Selasa (14/4/2020), total penawaran yang masuk mencapai Rp27,65 triliun. Jumlah itu merupakan yang terendah sepanjang tahun berjalan. Total nominal yang dimenangkan pemerintah dalam lelang tersebut mencapai Rp16,88 triliun. Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana mengatakan angka penawaran yang rendah dalam lelang SUN hari ini disebabkan kekhawatiran investor terhadap penanganan COVID-19 di Indonesia. Terlebih, berbagai upaya yang dilakukan belum membuat kurva penyebaran melandai. “Hal ini dikhawatirkan akan memperpanjang risiko perekonomian dan recovery Indonesia,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (14/4/2020). Fikri menilai minimnya penawaran yang masuk dalam lelang SUN bukan disebabkan oleh risk appetite. Menurutnya, SUN semestikan r...

CAPITAL FLOW AND MACROECONOMIC STABILITY IN INDONESIA

1. Latar Belakang Fenomena aliran modal (capital flow) di suatu negara merupakan hal yang selalu menarik untuk dibahas.Penalver (2003) bahwa capital flow yang terjadi di negara-negara berkembang (emerging market) terjadi dalam suatu siklus tertentu yang disertai dengan ledakan peminjaman (boom in lending) yang tidak jarang disertai dengan krisis keuangan (financial crises) di masa depan. Dalam periode belakangan ini meningkatnya tantangan bagi perekonomian di negara-negara berkembang (emerging market economies) juga disebabkan perlunya pengawasan terhadap recovery capital inflow menuju kawasan ini semenjak terjadinya sudden stop di akhir tahun 2008 dan di awal 2009 (Ostry, et al, 2011).Sebagai ilustrasi, capital inflow dapat meningkatkan investasi domestik (Mileva, 2008), dapat meningkatkan likuiditas dan mengurangi cost of capital (Bekaert dan Havey, 2000), menimbulkan collateral benefits , dan berujung pada peningkatan pertumbuhan ekonomi (Ito, 1999). Namun disisi lain, capital inflow...

SCHUMPETERIAN GROWTH THEORY DAN FAKTA EMPIRIS PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA

1. Perkembangan Teori Ekonomi Pembangunan Basu (1997) mengelompokkan teori pembangunan ekonomi yang berkembang saat ini menjadi tiga, yakni teori Harod-Domar ; Neoclassical model; dan theory of endogenous growth. Seperti namanya, teori Harod-Domar dikembangkan oleh Harod dan Domar yang pada intinya menjelaskan tentang perkembangan dinamis dari Keynesian-macroeconomics bagi perekonomian Kapitalis dengan mendasarkan pemikirannya pada pertumbuhan modal (capital) dan tenaga kerja (labor) sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya, teori ini disempurnakan melalui Neo-classical model yang dikembangkan oleh Solow dan Swan (1956), yang menambahkan beberapa properties, yakni terjadinya constant return to scale, adanya Law of diminishing return, dan terdapatnya Inada condition dalam perekonomian. Pada perkembangannya, teori neoclassical pun pada semakin disempurnakan dengan suatu teori yang dinamakan Endogenous Growth Theory, dengan menambahkan beberapa factor endogen ke dalam model. Hal i...