Skip to main content

Pefindo: Perang Dagang Bikin Emiten Ogah Rilis Obligasi

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai perang dagang antara AS-China yang semakin tereskalasi akan berdampak pada turunnya minat penerbitan surat utang (obligasi) korporasi di dalam negeri.

Pasalnya, yield (imbal hasil) surat utang yang akan diterbitkan bisa meningkat sehingga membebani beban bunga (cost of fund) perusahaan penerbit.

Ekonom Pefindo Fikri C. Permana mengatakan perang dagang memberikan sentimen negatif untuk seluruh negara berkembang alias emerging market termasuk Indonesia. Salah satunya adalah menyebabkan terjadinya aliran dana asing keluar (capital outflow) yang menunjukkan terjadinya penurunan minat asing untuk berinvestasi di Indonesia. 

"Memang trade war pengaruhnya ke sentimen dan yield surat utang korporasi," kata Fikri di kantornya, Rabu (15/5).

"Sentimennya negatif trade war ke emerging market. Bisa dari pengaruh capital inflow sudah tersendat masuk padahal di kuartal I-2019 jumlahnya lumayan banyak tapi di April-Mei turun jauh karena sentimen perang dagang pengaruh minat investasi dan surat utang korporasi," katanya lagi.

Rendahnya minat untuk penerbitan surat utang ini merupakan dampak tidak langsung dari perang dagang.


Sebab, jika asing keluar dari pasar keuangan Indonesia membuat posisi rupiah melemah dibanding dolar AS dan mempengaruhi yield Surat Utang Negara (SUN).

Yield SUN yang tinggi akan berdampak pada spread atau selisih antara surat utang korporasi, terutama credit default swap (CDS) Indonesia, sehingga risiko surat utang menjadi lebih tinggi.

Kondisi ini akan mendorong yield surat utang korporasi menjadi lebih tinggi sehingga perusahaan yang akan menerbitkan mesti menawarkan kupon tinggi dan otomatis memberatkan beban bunga mereka. 

Keadaan ini sudah dicerminkan dari selisih yield surat utang korporasi (dengan rating AAA) dengan SUN yang di awal tahun lalu masih bergerak di kisaran 70-80 basis poin (bps). Namun sejak April lalu, sejalan dengan meningkatnya eskalasi perang dagang, selisih yield SUN menjadi sebesar 123 bps.

Data Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) mencatat yield SUN 10 tahun saat ini di level 8,29%. "Pengaruhnya secara tidak langsung dan dorong cost of fund tinggi buat penerbitan [obligasi] baru," kata dia. 

Saat ini penerbitan surat utang korporasi masih mengandalkan penyerapan oleh investor dalam negeri. 

Fikri optimistis kondisi menjadi lebih baik dalam 3 bulan terakhir ini yang akan tercermin dari mulai adanya peningkatan penerbitan surat utang. Kondisi ini juga didorong dengan adanya harapan stabilnya perekonomian dan terjaganya inflasi serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.




Tulisan diatas juga dapat dilihat pada tautan berikut:

Comments

Popular posts from this blog

Investor Takut, Penawaran di Lelang SUN Menciut

Bisnis.com, JAKARTA — Kekhawatiran investor terhadap penanganan penyebaran COVID-19 di Indonesia membuat jumlah penawaran yang masuk dalam lelang surat utang negara (SUN) kian menciut. Dalam lelang yang digelar hari ini, Selasa (14/4/2020), total penawaran yang masuk mencapai Rp27,65 triliun. Jumlah itu merupakan yang terendah sepanjang tahun berjalan. Total nominal yang dimenangkan pemerintah dalam lelang tersebut mencapai Rp16,88 triliun. Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana mengatakan angka penawaran yang rendah dalam lelang SUN hari ini disebabkan kekhawatiran investor terhadap penanganan COVID-19 di Indonesia. Terlebih, berbagai upaya yang dilakukan belum membuat kurva penyebaran melandai. “Hal ini dikhawatirkan akan memperpanjang risiko perekonomian dan recovery Indonesia,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (14/4/2020). Fikri menilai minimnya penawaran yang masuk dalam lelang SUN bukan disebabkan oleh risk appetite. Menurutnya, SUN semestikan r...

CAPITAL FLOW AND MACROECONOMIC STABILITY IN INDONESIA

1. Latar Belakang Fenomena aliran modal (capital flow) di suatu negara merupakan hal yang selalu menarik untuk dibahas.Penalver (2003) bahwa capital flow yang terjadi di negara-negara berkembang (emerging market) terjadi dalam suatu siklus tertentu yang disertai dengan ledakan peminjaman (boom in lending) yang tidak jarang disertai dengan krisis keuangan (financial crises) di masa depan. Dalam periode belakangan ini meningkatnya tantangan bagi perekonomian di negara-negara berkembang (emerging market economies) juga disebabkan perlunya pengawasan terhadap recovery capital inflow menuju kawasan ini semenjak terjadinya sudden stop di akhir tahun 2008 dan di awal 2009 (Ostry, et al, 2011).Sebagai ilustrasi, capital inflow dapat meningkatkan investasi domestik (Mileva, 2008), dapat meningkatkan likuiditas dan mengurangi cost of capital (Bekaert dan Havey, 2000), menimbulkan collateral benefits , dan berujung pada peningkatan pertumbuhan ekonomi (Ito, 1999). Namun disisi lain, capital inflow...

SCHUMPETERIAN GROWTH THEORY DAN FAKTA EMPIRIS PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA

1. Perkembangan Teori Ekonomi Pembangunan Basu (1997) mengelompokkan teori pembangunan ekonomi yang berkembang saat ini menjadi tiga, yakni teori Harod-Domar ; Neoclassical model; dan theory of endogenous growth. Seperti namanya, teori Harod-Domar dikembangkan oleh Harod dan Domar yang pada intinya menjelaskan tentang perkembangan dinamis dari Keynesian-macroeconomics bagi perekonomian Kapitalis dengan mendasarkan pemikirannya pada pertumbuhan modal (capital) dan tenaga kerja (labor) sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya, teori ini disempurnakan melalui Neo-classical model yang dikembangkan oleh Solow dan Swan (1956), yang menambahkan beberapa properties, yakni terjadinya constant return to scale, adanya Law of diminishing return, dan terdapatnya Inada condition dalam perekonomian. Pada perkembangannya, teori neoclassical pun pada semakin disempurnakan dengan suatu teori yang dinamakan Endogenous Growth Theory, dengan menambahkan beberapa factor endogen ke dalam model. Hal i...