Skip to main content

Posts

Ketidakpastian Global Dinilai Tak Ganggu Capital Inflow ke Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Ketidakpastian global beserta perlambatan ekonomi dunia tahun ini diyakini tidak banyak mengganggu aliran modal asing masuk ke negara-negara berkembang atau emerging markets seperti Indonesia. Berdasarkan Laporan Perekonomian Terkini Bank Indonesia, sejumlah strategi pelonggaran kebijakan moneter hampir di seluruh belahan dunia belum membuahkan hasil bagi perbaikan ekonomi dunia. Laporan itu memerinci, ketegangan ekonomi akibat perang dagang membuat rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini hanya akan mencapai 3,0% (yoy) dari tahun sebelumnya 3,6% (yoy) berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF). Adapun perbaikan diyakini mulai terjadi pada 2020 dengan perkiraan naik tipis 3,1% (yoy). Sementara itu, Bank Indonesia sendiri masih cukup optimistis memprakirakan ekonomi dunia tahun ini bisa mencapai 3,2% (yoy), dan akan membaik atau rebound pada 2020 menjadi 3,3% (yoy). Kondisi tersebut dipicu oleh menurunnya volume perdagangan dunia, alhasil ...

Penerbitan Surat Utang Korporasi Diprediksi Rp 158,5 Triliun pada 2020

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan, emisi penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp 158,5 triliun pada tahun depan. Nilai tersebut meningkat 17% dibanding proyeksi tahun ini Rp 135,2 triliun. Ekonom Pefindo Fikri C Permana menyampaikan, ada beberapa faktor yang mendorong peningkatan penerbitan surat utang korporasi pada 2020. Salah satunya suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) turun 100 basis point (bps) menjadi 5% sejak awal tahun ini. Ia menilai, suku bunga acuan berpeluang turun kembali pada tahun depan. “Kami berharap hal itu juga akan mendorong biaya dana (cost of fund) domestik turun," kata Fikri di kantornya, Jakarta, Selasa (19/11). Faktor kedua, penurunan imbal hasil (yield) surat utang yang lebih besar dibanding BI7DRRR. Suku bunga bebas risiko alias Risk Free Rate (RFR) untuk Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun turun 120 bps, bahkan sempat menurun 130 bps. Menurut dia, Bank Indonesia (BI) berpeluang menurunkan suku bu...

Proyeksi Kurs Rupiah: Dikepung Sentimen Data Ekonomi Dalam Negeri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkembangan negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang tidak sesuai ekspektasi membuat nilai tukar rupiah loyo. Kemarin, kurs rupiah di pasar spot melemah 0,06% ke Rp 14.088 per dollar AS. Serupa, kurs tengah rupiah di Bank Indonesia juga turun 0,11% menjadi Rp 14.098 per dollar AS. Fikri C. Permana, Ekonom Pefindo, mengatakan, kurs dollar AS kembali menguat gara-gara perang dagang antara AS dan China semakin panas. Alhasil, mata uang emerging market melemah, termasuk rupiah. Sentimen negatif perang dagang masih bakal membayangi pergerakan rupiah hari ini. Selain itu, nilai tukar rupiah juga bakal dipengaruhi oleh rilis data ekonomi dari dalam negeri. Saat ini, pelaku pasar juga menunggu rilis data neraca perdagangan periode Oktober. "Jika defisit neraca perdagangan kembali melebar, maka nilai tukar rupiah dapat melemah terbatas," kata Lukman Leong, Analis Valbury Asia Futures, kemarin. Asal tahu saja, pada periode September l...

Pefindo Kantongi Mandat Penerbitan Obligasi Korporasi Rp26,93 Triliun

Bisnis.com, JAKARTA - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengantongi mandat penerbitan obligasi senilai Rp26,93 triliun per 31 Oktober 2019. Berdasarkan data Pefindo, per 31 Oktober 2019 mandat penerbitan surat utang korporasi menyentuh Rp26,93 triliun. Dari mandat penerbitan surat utang yang dikantongi Pefindo, sektor perbankan masih mendominasi yakni dengan Rp10,15 triliun. Kemudian, disusul oleh sektor pembiayaan sebesar Rp4,8 triliun dan manajemen investasi sebesar Rp3 triliun. Lalu, sektor properti sebesar Rp2,6 triliun dan sektor transportasi senilai Rp2 triliun. Adapun, dari data yang dicatat Bursa Efek Indonesia, penggalangan dana yang dilakukan 14 perusahaan menyentuh Rp16,72 triliun. Analis Pefindo, Fikri C Permana mengatakan masih cukup tingginya kegiatan penggalangan disebabkan dua alasan utama. Pertama, tren yield dan suku bunga rendah. Seperti diketahui, Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan turun 100 basis poin dari 6% menjadi 5% dalam empat kali...

Uang Beredar Melambat, Likuiditas Dinilai Belum Ketat

Bisnis.com, JAKARTA – Perlambatan uang beredar dalam arti luas (M2) pada September 2019 yang hanya 7,1% (yoy), dibandingkan dengan bulan sebelumnya 7,3% (yoy) dinilai belum menandakan keterbatasan likuiditas saat ini. Berdasarkan data dari Bank Indonesia, perlambatan ini terjadi pada uang kuasi, dan surat berharga selain saham. BI memerinci, bahwa uang kuasi memiliki pangsa terhadap M2 sebesar 74,4%, dengan nilai Rp4.468,8 triliun. Angka ini melambat menjadi 7,0% (yoy), padahal Agustus 2019 masih tercatat 7,4% (yoy). BI menyatakan, perlambatan ini dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan simpanan berjangka dan giro valuta asing (valas). Masih dari laporan yang sama, Bisnis .commencatat, surat berharga selain saham juga melambat 45,4% (yoy) menjadi 39,1% (yoy) pada September ini. Hal ini disebabkan oleh perlambatan kewajiban akseptasi perbankan kepada korporasi non bank dalam rupiah. Menurut ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana menyatakan, perlambatan ...

Angka CDS turun, dana asing di pasar SBN masih deras

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persepsi risiko investasi Indonesia yang tercermin dalam angka Credit Default Swap (CDS) nampak terus turun setidaknya dalam sepekan ini. Stabilnya isu ekonomi global dan domestik dinilai menjadi pemicu risiko investasi terutama di pasar surat utang negara Indonesia menuju angka terendah. Angka CDS tenor 5 tahun sempat menempati posisi terendah hingga di level 75,086 pada perdagangan selasa (29/10). Hingga pukul 14.15, angka CDS sudah berada di posisi 75,669. Dengan angka CDS yang di posisi rendah, hal ini juga berdampak pada aliran dana asing yang masuk di SBN pun terus bertumbuh hingga 39,15% atau senilai dengan Rp 1.057,53 triliun. Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto menilai penurunan angka CDS ini didasari oleh dua faktor yakni faktor global dan domestik. Dari global, ia melihat pasar global stabil dengan segala isu yang sedang mereda. Selain itu, dia bilang bahwa rate yield Indonesia termasuk tinggi dibandi...

Penjualan ORI016 Rendah, Investor Masih Cari Bunga Tinggi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penjualan obligasi negara ritel (ORI) seri ORI016 tercatat tidak memenuhi target yang ditetapkan pemerintah. Instrumen investasi tersebut hanya mampu menyerap dana Rp 8,2 triliun dari target yang dipatok Rp 9 triliun. Analis Pefindo Fikri C Permana menilai rendahnya penyerapan ORI016 tersebut dikarenakan bunga yang ditawarkan jauh lebih rendah dari seri sebelumnya. Untuk ORI016, pemerintah menawarkan yield 6,8 persen, sedangkan yield yang ditawarkan untuk ORI015 mencapai 8,25 persen.  "Karenanya mungkin ini mengakibatkan jumlah penjualannya juga sedikit, hampir mirip dengan ORI014 yang diterbitkan di 2017 mungkin ya," kata Fikri, Selasa (29/10). Menurut Fikri, investor saat ini masih cenderung mencari instrumen investasi yang memberikan bunga tinggi. Fikri melihat, fitur tradeable ORI016 masih belum cukup mampu menarik investor untuk membeli instrumen ini. "Kebiasaan SBN ritel untuk hold to maturity, sehingga akan jarang sekali diperda...