Skip to main content

Penerbitan Surat Utang Korporasi Diprediksi Rp 158,5 Triliun pada 2020

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan, emisi penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp 158,5 triliun pada tahun depan. Nilai tersebut meningkat 17% dibanding proyeksi tahun ini Rp 135,2 triliun.
Ekonom Pefindo Fikri C Permana menyampaikan, ada beberapa faktor yang mendorong peningkatan penerbitan surat utang korporasi pada 2020. Salah satunya suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) turun 100 basis point (bps) menjadi 5% sejak awal tahun ini.

Ia menilai, suku bunga acuan berpeluang turun kembali pada tahun depan. “Kami berharap hal itu juga akan mendorong biaya dana (cost of fund) domestik turun," kata Fikri di kantornya, Jakarta, Selasa (19/11). Faktor kedua, penurunan imbal hasil (yield) surat utang yang lebih besar dibanding BI7DRRR. Suku bunga bebas risiko alias Risk Free Rate (RFR) untuk Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun turun 120 bps, bahkan sempat menurun 130 bps.

Menurut dia, Bank Indonesia (BI) berpeluang menurunkan suku bunga acuan 50 bps pada tahun depan. “Kami juga berharap yield tahun depan bisa turun 50 bps atau lebih," kata Fikri. Faktor ketiga, nilai surat utang yang jatuh tempo pada tahun depan mencapai Rp 126,4 triliun. Hal ini mendorong perusahaan menerbitkan pendanaan ulang utang (refinancing) pada 2020.

Pendorong lainnya yakni instrumen surat utang lebih banyak, sehingga korporasi memiliki banyak pilihan. Di antaranya obligasi, berbasise syariah alias sukuk, jangka menengah atau medium term notes (MTN) hingga efek bersifat utang berwawasan lingkungan (Green Bond).  "Kami harap (bervariasinya instrumen surat utang) bisa mendorong pertumbuhan penerbitan surat utang korporasi tahun depan," kata Fikri. 

Total surat utang yang sudah diterbitkan perusahaan mencapai Rp 116,25 triliun per 31 Oktober 2019. Sektor industri yang paling banyak menerbitkan efek bersifat utang yakni finansial, dengan nilai Rp 47,84 triliun. Diikuti oleh perbankan Rp 20,45 triliun. Tahun ini, Pefindo memperkirakan total penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp 135,2 triliun. Mandat penerbitan surat utang yang ada di Pefindo saja nilainya Rp 18,28 triliun dari 21 perusahaan. Walaupun ia belum tahu pasti penerbitannya dilakukan tahun ini atau awal 2020.




Tulisan diatas dapat dibaca pada tautan berikut:

Comments

Popular posts from this blog

Investor Takut, Penawaran di Lelang SUN Menciut

Bisnis.com, JAKARTA — Kekhawatiran investor terhadap penanganan penyebaran COVID-19 di Indonesia membuat jumlah penawaran yang masuk dalam lelang surat utang negara (SUN) kian menciut. Dalam lelang yang digelar hari ini, Selasa (14/4/2020), total penawaran yang masuk mencapai Rp27,65 triliun. Jumlah itu merupakan yang terendah sepanjang tahun berjalan. Total nominal yang dimenangkan pemerintah dalam lelang tersebut mencapai Rp16,88 triliun. Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana mengatakan angka penawaran yang rendah dalam lelang SUN hari ini disebabkan kekhawatiran investor terhadap penanganan COVID-19 di Indonesia. Terlebih, berbagai upaya yang dilakukan belum membuat kurva penyebaran melandai. “Hal ini dikhawatirkan akan memperpanjang risiko perekonomian dan recovery Indonesia,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (14/4/2020). Fikri menilai minimnya penawaran yang masuk dalam lelang SUN bukan disebabkan oleh risk appetite. Menurutnya, SUN semestikan r...

CAPITAL FLOW AND MACROECONOMIC STABILITY IN INDONESIA

1. Latar Belakang Fenomena aliran modal (capital flow) di suatu negara merupakan hal yang selalu menarik untuk dibahas.Penalver (2003) bahwa capital flow yang terjadi di negara-negara berkembang (emerging market) terjadi dalam suatu siklus tertentu yang disertai dengan ledakan peminjaman (boom in lending) yang tidak jarang disertai dengan krisis keuangan (financial crises) di masa depan. Dalam periode belakangan ini meningkatnya tantangan bagi perekonomian di negara-negara berkembang (emerging market economies) juga disebabkan perlunya pengawasan terhadap recovery capital inflow menuju kawasan ini semenjak terjadinya sudden stop di akhir tahun 2008 dan di awal 2009 (Ostry, et al, 2011).Sebagai ilustrasi, capital inflow dapat meningkatkan investasi domestik (Mileva, 2008), dapat meningkatkan likuiditas dan mengurangi cost of capital (Bekaert dan Havey, 2000), menimbulkan collateral benefits , dan berujung pada peningkatan pertumbuhan ekonomi (Ito, 1999). Namun disisi lain, capital inflow...

SCHUMPETERIAN GROWTH THEORY DAN FAKTA EMPIRIS PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA

1. Perkembangan Teori Ekonomi Pembangunan Basu (1997) mengelompokkan teori pembangunan ekonomi yang berkembang saat ini menjadi tiga, yakni teori Harod-Domar ; Neoclassical model; dan theory of endogenous growth. Seperti namanya, teori Harod-Domar dikembangkan oleh Harod dan Domar yang pada intinya menjelaskan tentang perkembangan dinamis dari Keynesian-macroeconomics bagi perekonomian Kapitalis dengan mendasarkan pemikirannya pada pertumbuhan modal (capital) dan tenaga kerja (labor) sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya, teori ini disempurnakan melalui Neo-classical model yang dikembangkan oleh Solow dan Swan (1956), yang menambahkan beberapa properties, yakni terjadinya constant return to scale, adanya Law of diminishing return, dan terdapatnya Inada condition dalam perekonomian. Pada perkembangannya, teori neoclassical pun pada semakin disempurnakan dengan suatu teori yang dinamakan Endogenous Growth Theory, dengan menambahkan beberapa factor endogen ke dalam model. Hal i...