Skip to main content

Rupiah bertenaga, pasar obligasi kian bergairah

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar surat utang atau obligasi Indonesia makin membetot daya tarik investor. Stabilitas makro ekonomi dalam negeri menjadi kunci gairah di pasar obligasi.

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana mengatakan, prospek positif pasar obligasi didorong pergerakan rupiah yang stabil dan credit default swap (CDS) yang menurun.

“Prospeknya masih positif, seiring dengan CDS yang turun, rupiah stabil dan yield surat utang negara (SUN) yang makin beranjak di bawah 7%, kata Fikri, Kamis (23/1).

Ia menilai, seiring dengan kebijakan akomodatif yang masih akan diambil pemangku kebijakan moneter dan fiskal, pasar obligasi masih menarik.

Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas Ariawan menambahkan kondisi makro ekonomi Indonesia yang membaik juga mendukung positif pasar obligasi Indonesia.

Kata Ariawan, makro ekonomi Indonesia membaik, pertumbuhan ekonomi masih kuat, inflasi akan tetap rendah dan stabil terjadi di level 3%. "Rupiah juga kecenderungannya menguat jadi beberapa hal ini bisa jadi sentimen positif untuk pasar surat utang Indonesia,” kata Ariawan.

Meredanya teknana eksternal juga akan mendorong minat investor asing masuk ke pasar obligasi Indonesia. Masuknya asing, menurut Ariawan, akan berdampak positif karena membawa peluang penurunan yield SUN.

Turunnya yield SUN akan berdampak baik bagi pasar obligasi korporasi karena akan diikuti penurunan yield obligasi korporasi sehingga akan membuka minat emiten untuk menerbitkan obligasi.

Ariawan memperkirakan penerbitan obligasi korporasi tahun ini akan mencapai Rp 135 triliun- Rp 140 triliun. Jumlah ini lebih tinggi dari tahun lalu yang berkisar Rp 122 triliun.


Tulisan ini juga dapat dilihat pada tautan berikut:
https://investasi.kontan.co.id/news/rupiah-bertenaga-pasar-obligasi-kian-bergairah


Comments

Popular posts from this blog

Investor Takut, Penawaran di Lelang SUN Menciut

Bisnis.com, JAKARTA — Kekhawatiran investor terhadap penanganan penyebaran COVID-19 di Indonesia membuat jumlah penawaran yang masuk dalam lelang surat utang negara (SUN) kian menciut. Dalam lelang yang digelar hari ini, Selasa (14/4/2020), total penawaran yang masuk mencapai Rp27,65 triliun. Jumlah itu merupakan yang terendah sepanjang tahun berjalan. Total nominal yang dimenangkan pemerintah dalam lelang tersebut mencapai Rp16,88 triliun. Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana mengatakan angka penawaran yang rendah dalam lelang SUN hari ini disebabkan kekhawatiran investor terhadap penanganan COVID-19 di Indonesia. Terlebih, berbagai upaya yang dilakukan belum membuat kurva penyebaran melandai. “Hal ini dikhawatirkan akan memperpanjang risiko perekonomian dan recovery Indonesia,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (14/4/2020). Fikri menilai minimnya penawaran yang masuk dalam lelang SUN bukan disebabkan oleh risk appetite. Menurutnya, SUN semestikan r...

Fisher and Wicksell on the Quantity Theory (1997)_Review

Thomas M. Humphrey Fisher and Wicksell on the Quantity Theory (1997) Terdapatnya hubungan antara market price dengan money’s value in terms of goods Quantity Theory of Money Demand Fisher mecoba menjelaskan hubungan antara total quantity of money (M) dan jumlah total spending terhadap final goods and services yang diproduksi dalam perekonomian (yang dipengaruhi oleh tingat harga, P; dan aggregate output,Y). Sementara velocity of money (V) merupakan total spending (P×Y) dibagi quantity of money (M), atau; Saat money market berada di equilibrium (M = Md), menggunakan k sebagairepresentasi dari 1/V (constant); Fisher juga menjelaskan bahwa demand for money dipengaruhi oleh; 1) Oleh evel transaksi disebabkan oleh level of nominal income (PY) 2) Oleh institusi dalam perekonomian yang disebabkan oleh bagaimana masyarakat melakukan transaksi (yang akan mempengaruhi V, dan seterusnya, k) Fisher; public’s real demand for money terutama mengacu pada domestic price level Wicksell; non-monetary de...

CAPITAL FLOW AND MACROECONOMIC STABILITY IN INDONESIA

1. Latar Belakang Fenomena aliran modal (capital flow) di suatu negara merupakan hal yang selalu menarik untuk dibahas.Penalver (2003) bahwa capital flow yang terjadi di negara-negara berkembang (emerging market) terjadi dalam suatu siklus tertentu yang disertai dengan ledakan peminjaman (boom in lending) yang tidak jarang disertai dengan krisis keuangan (financial crises) di masa depan. Dalam periode belakangan ini meningkatnya tantangan bagi perekonomian di negara-negara berkembang (emerging market economies) juga disebabkan perlunya pengawasan terhadap recovery capital inflow menuju kawasan ini semenjak terjadinya sudden stop di akhir tahun 2008 dan di awal 2009 (Ostry, et al, 2011).Sebagai ilustrasi, capital inflow dapat meningkatkan investasi domestik (Mileva, 2008), dapat meningkatkan likuiditas dan mengurangi cost of capital (Bekaert dan Havey, 2000), menimbulkan collateral benefits , dan berujung pada peningkatan pertumbuhan ekonomi (Ito, 1999). Namun disisi lain, capital inflow...