Skip to main content

Rupiah ditutup menguat hari ini, bagaimana prospeknya pada perdagangan Kamis (23/1)?

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mata uang rupiah menguat 0,17% ke level Rp 13.646 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (22/1). Penguatan rupiah ini disokong sentimen internal maupun eksternal.

Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf  mengatakan, dari sisi eksternal meredanya perang dagang antara AS dan China menjadi sentimen positif penyokong rupiah. 

“Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan di Davos, menyatakan kesepakatan dagang tahap dua akan segera dilaksanakan. Ini mengangkat selera berisiko para pelaku pasar,” Ujar Alwi kepada Kontan.co.id, Rabu (22/1).

Sementara itu, dari dalam negeri, Alwi menilai cadangan devisa yang gemuk menjadi salah satu faktor penopang penguatan rupiah. Ini membuat Bank Indonesia  (BI) leluasa untuk melakukan intervensi jika sewaktu-waktu diperlukan.

Setali tiga uang, penguatan rupiah hari ini dinilai ekonom Pefindo Fikri C Permana datang dari dalam negeri. Data makro ekonomi Indonesia menunjukkan hasil yang solid. Khususnya mengenai imbal balik obligasi.

“Sepertinya spread yield antara SUN dan US treasury masih menjadi hal yang menarik capital inflow ke Indonesia. Hal ini yang menyebabkan rupiah terapresiasi hari ini, walau penguatannya tipis,” ujar Fikri. 

Namun Alwi menilai besok, Kamis (23/1) rupiah berpotensi melemah. Sentimen eksternal menjadi yang utama pada perdagangan besok. Salah satunya adalah semakin menyebarnya virus Corona di China.

“Penyebaran virus menjadi sentimen pemberat bagi aset berisiko sekaligus menguntungkan safe haven. Dolar AS sebagai salah mata uang safe haven akan dilirik terlebih jika kekhawatiran semakin meningkat,” papar Alwi.

Sementara Fikri melihat besok pengumuman BI akan menjadi salah satu acuan terhadap pergerakan pasar keuangan Indonesia, termasuk rupiah.

Alwi juga menilai kondisi rupiah yang sudah overbought bisa memicu aksi profit taking. Oleh karena itu, Alwi memproyeksikan pada perdagangan besok rupiah akan melemah dan bergerak pada rentang Rp 13.560 - Rp 13.700.
Berbeda dengan Alwi, Fikri memproyeksikan rupiah justru akan menguat kembali dengan nilai tengah di Rp 13.635. Sementara pergerakannya berada di rentang Rp 13.575 - Rp 13.695.


Tulisan diatas dapat dilihat pada tautan berikut:



Comments

Popular posts from this blog

Ketidakpastian Global Dinilai Tak Ganggu Capital Inflow ke Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Ketidakpastian global beserta perlambatan ekonomi dunia tahun ini diyakini tidak banyak mengganggu aliran modal asing masuk ke negara-negara berkembang atau emerging markets seperti Indonesia. Berdasarkan Laporan Perekonomian Terkini Bank Indonesia, sejumlah strategi pelonggaran kebijakan moneter hampir di seluruh belahan dunia belum membuahkan hasil bagi perbaikan ekonomi dunia. Laporan itu memerinci, ketegangan ekonomi akibat perang dagang membuat rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini hanya akan mencapai 3,0% (yoy) dari tahun sebelumnya 3,6% (yoy) berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF). Adapun perbaikan diyakini mulai terjadi pada 2020 dengan perkiraan naik tipis 3,1% (yoy). Sementara itu, Bank Indonesia sendiri masih cukup optimistis memprakirakan ekonomi dunia tahun ini bisa mencapai 3,2% (yoy), dan akan membaik atau rebound pada 2020 menjadi 3,3% (yoy). Kondisi tersebut dipicu oleh menurunnya volume perdagangan dunia, alhasil ...

CDS Indonesia kembali naik dipicu situasi politik dalam negeri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sentimen global masih kuat menekan persepsi risiko investasi Indonesia bergerak ke level yang semakin buruk. Apalagi, kondisi politik dalam negeri yang memanas juga turut mengikis kepercayaan investor asing. Mengutip Bloomberg, indeks persepsi risiko atau Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun berada di level 108,75 pada perdagangan, Jumat (24/5). Dalam sepekan level tersebut naik 3,46 basis poin dan semakin meninggalkan level terendahnya di 82,40 sejak Maret lalu. Kompak, CDS Indonesia tenor 10 tahun juga cenderung naik ke level 183,00 pada perdagangan Kamis (23/5). CDS 10 tahun ini juga semakin meninggalkan level terendahnya di 157,85 sejak April lalu. Sekadar informasi, level CDS yang semakin tinggi menunjukkan kekhawatiran investor asing terhadap investasi di pasar Indonesia semakin tinggi. Research Analyst Capital Asset Management Desmon Silitonga mengatakan kondisi politik dalam negeri yang sempat memanas memang mempengaruhi level CDS ja...

PR Otoritas Fiskal dan Moneter Pasca Paket Kebijakan Ekonomi

Sinyal positif mulai disebarkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia seiring dengan paket kebijakan ekonomi I dan II yang telah diumumkan pada 9 dan 29 September lalu. Walaupun dinilai agak terlambat, namun setidaknya paket kebijakan yang diumumkan mulai menampakkan arah yang jelas, utamanya dalam mendorong perekonomian di sisi penawaran (supply side). Disamping itu, integrasi sisi fiskal dan moneter yang dalam satu tahun belakangan terlihat kurang padu, mulai memperlihatkan keselarasan bauran kebijakan sesuai dengan daya jangkaunya masing-masing. Walaupun begitu, baik pemerintah dan Bank Indonesia masih menyisakan beberapa pekerjaan rumah (PR) guna mendorong perekonomian Indonesia menjadi lebih inklusif dan berkesinambungan. PR Bagi Otoritas Fiskal Dari sisi pemerintah (atau dari sisi fiskal), paket kebijakan diwarnai oleh deregulasi utamanya bagi sektor investasi. Sayangnya, sepertinya hal ini baru akan berdampak dalam jangka menengah-panjang. Ini dikarenakan deregulasi lebih diarahka...