Skip to main content

Relaksasi Kebijakan Makroprudensial Masih Terbuka

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia diproyeksikan menahan suku bunga acuan pada Desember 2019, namun ada peluang menggunakan relaksasi kebijakan makroprudensial untuk mendorong kinerja sektor perbankan.

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana menyatakan Bank Indonesia akan menahan godaan memangkas suku bunga acuan atau BI 7 Days Repo Rate (BI7DRR). Ada beberapa pertimbangan menurut Fikri yang membuat Bank Indonesia akan menahan BI7DRR.

Pertama, pekan lalu The Fed sudah menahan suku bunga dan memberi sinyal kemungkinan akan ada kenaikan pada tahun depan, seiring tingkat pengangguran yang relatif rendah di Amerika Serikat.

Pertimbangan kedua, rupiah juga masih stabil dan cenderung terapresiasi menjelang akhir tahun. Ketiga, Credit Default Swap (CDS) dan yield Surat Utang Negara (SUN) jangka pendek, yaitu satu tahun masih berada pada level yang rendah, bahkan terendah setidaknya dalam 5 tahun terakhir.

“Namun ada beberapa risiko yang perlu dipertimbangkan ke depannya oleh Bank Indonesia. Misalnya besarnya defisit neraca dagang bulan November yang diiringi potensi pelebaran defisit transaksi berjalan,” ujar Fikri kepada Bisnis, Rabu (18/12/2019).

Dia menilai, risiko lain yang mengintai adalah shortfall pajak dan deficit primary balance atau defisit keseimbangan primer yang diperkirakan lebih tinggi dibandingkan APBN 2019. Risiko lainnya, suku bunga kredit dan penyaluran kredit masih belum sesuai harapan.

“Karenanya masih diperlukan relaksasi sektor perbankan, melalui pemberian kebijakan akomodatif lain baik melalui penurunan Lending Facility Rate atau Giro Wajib Minimum,” sambungnya.

Fikri memerinci, masih ada masalah pada sumber dana dan risiko perbankan saat ini. Tingginya risiko itu menunjukkan kinerja perbankan yang masih kurang efisien.

Adapun keterbatasan sumber dana khususnya Dana Pihak Ketiga (DPK) masih bertumpu pada dana mahal sejenis deposito. Selain itu, risiko penyaluran kredit dengan non performing loan (NPL) masih berada di rentang 2,5 persen. Sebagai contoh, berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, NPL untuk industri pengolahan tercatat 3,65 persen, perdagangan sebesar 3,86 persen, dan konstruksi sebesar 3,55 persen.

“Sehingga secara rata-rata, net interest margin perbankan pun belum bisa ditekan ke bawah nilai 4 persen,” ujarnya.

Selain itu, biaya operasional perbankan Indonesia menurut Fikri juga masih cukup mahal. Pasalnya, karena keterbutuhan pada infrastruktur, pegawai, dan faktor penunjang lain yang belum mencapai nilai maksimum efisiensi.

Ekonom UOB Indonesia, Enrico Tanuwidjaja menambahkan, prediksi Bank Indonesia kembali menahan suku bunga ini tak lepas dari pernyataan The Fed tidak akan mengubah kebijakan moneter sepanjang 2020, dan berpeluang kembali naik pada 2021. Pertimbangan lain karena inflasi pada 2020 diprediksi naik pada kisaran 2,5 persen sampai 4,5 persen dan rupiah juga masih akan mengalami depresiasi terukur tahun depan.

“Maka meski akan kesempatan dan ruang gerak bagi Bank Indonesia menurunkan Bi rate, tapi itu cenderung terbatas. Kami prediksikan BI baru akan memangkas suku bunga lagi pada kuartal I/2020,” ujar Enrico.


Tulisan diatas juga dapat dilihat pada tautan berikut:
ekonomi.bisnis.com/read/20191218/9/1182701/relaksasi-kebijakan-makroprudensial-masih-terbuka

Comments

Popular posts from this blog

Investor Takut, Penawaran di Lelang SUN Menciut

Bisnis.com, JAKARTA — Kekhawatiran investor terhadap penanganan penyebaran COVID-19 di Indonesia membuat jumlah penawaran yang masuk dalam lelang surat utang negara (SUN) kian menciut. Dalam lelang yang digelar hari ini, Selasa (14/4/2020), total penawaran yang masuk mencapai Rp27,65 triliun. Jumlah itu merupakan yang terendah sepanjang tahun berjalan. Total nominal yang dimenangkan pemerintah dalam lelang tersebut mencapai Rp16,88 triliun. Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana mengatakan angka penawaran yang rendah dalam lelang SUN hari ini disebabkan kekhawatiran investor terhadap penanganan COVID-19 di Indonesia. Terlebih, berbagai upaya yang dilakukan belum membuat kurva penyebaran melandai. “Hal ini dikhawatirkan akan memperpanjang risiko perekonomian dan recovery Indonesia,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (14/4/2020). Fikri menilai minimnya penawaran yang masuk dalam lelang SUN bukan disebabkan oleh risk appetite. Menurutnya, SUN semestikan r...

Fisher and Wicksell on the Quantity Theory (1997)_Review

Thomas M. Humphrey Fisher and Wicksell on the Quantity Theory (1997) Terdapatnya hubungan antara market price dengan money’s value in terms of goods Quantity Theory of Money Demand Fisher mecoba menjelaskan hubungan antara total quantity of money (M) dan jumlah total spending terhadap final goods and services yang diproduksi dalam perekonomian (yang dipengaruhi oleh tingat harga, P; dan aggregate output,Y). Sementara velocity of money (V) merupakan total spending (P×Y) dibagi quantity of money (M), atau; Saat money market berada di equilibrium (M = Md), menggunakan k sebagairepresentasi dari 1/V (constant); Fisher juga menjelaskan bahwa demand for money dipengaruhi oleh; 1) Oleh evel transaksi disebabkan oleh level of nominal income (PY) 2) Oleh institusi dalam perekonomian yang disebabkan oleh bagaimana masyarakat melakukan transaksi (yang akan mempengaruhi V, dan seterusnya, k) Fisher; public’s real demand for money terutama mengacu pada domestic price level Wicksell; non-monetary de...

CAPITAL FLOW AND MACROECONOMIC STABILITY IN INDONESIA

1. Latar Belakang Fenomena aliran modal (capital flow) di suatu negara merupakan hal yang selalu menarik untuk dibahas.Penalver (2003) bahwa capital flow yang terjadi di negara-negara berkembang (emerging market) terjadi dalam suatu siklus tertentu yang disertai dengan ledakan peminjaman (boom in lending) yang tidak jarang disertai dengan krisis keuangan (financial crises) di masa depan. Dalam periode belakangan ini meningkatnya tantangan bagi perekonomian di negara-negara berkembang (emerging market economies) juga disebabkan perlunya pengawasan terhadap recovery capital inflow menuju kawasan ini semenjak terjadinya sudden stop di akhir tahun 2008 dan di awal 2009 (Ostry, et al, 2011).Sebagai ilustrasi, capital inflow dapat meningkatkan investasi domestik (Mileva, 2008), dapat meningkatkan likuiditas dan mengurangi cost of capital (Bekaert dan Havey, 2000), menimbulkan collateral benefits , dan berujung pada peningkatan pertumbuhan ekonomi (Ito, 1999). Namun disisi lain, capital inflow...