Skip to main content

Hitung Cepat Pengaruhi Pergerakan Pasar Obligasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemilihan Umum 2019 telah selesai dilaksanakan pada Rabu (17/4) lalu. Berbagai lembaga survei pun merilis hasil penghitungan suara berdasarkan metode quick count atau hitung cepat.

Hasil sementara ini pun memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap pasar obligasi di Tanah Air. Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana melihat terjadinya penurunan yield Surat Utang Negara (SUN).

"Yield SUN 10 tahun (acuan) turun drastis dari 7,65 persen di Selasa (16/4) ke 7,58 persen pada Kamis (18/4). Meski demikian dari sisi aliran modal, menurut Fikri, belum ada kesimpulan apapun karena memang waktunya masih singkat.

Di samping lelang juga baru akan diadakan pada pekan depan. Fikri memperkirakan, antusiasme investor asing baru akan terlihat pergerakannya pada lelang pekan depan. Antusiasme dilihat dari banyaknya permintaan di pasar primer.

Apabila Pemilu 2019 dimenangkan oleh petahana, Fikri melihat, dalam jangka pendek pasar akan relatif merasakan Jokowi effect. Artinya, antusiasme pasar lebih tinggi jika dibandingkan Prabowo Subianto yang menang.

Hal ini lebih dikarenakan kebijakan ekonomi Joko Widodo relatif dapat diprediksi pasar. Sebab, kemungkinan kebijakan yan diambil relatif akan sama atau meneruskan yang sudah ada sebelumnya. Sedangkan bila Prabowo menang mungkin akan ada sedikit penyesuaian di pasar khususnya dari sisi kebijakan yang diambil.

Namun secara jangka panjang, dampaknya mungkin relatif hampir sama. Hal ini lebih karena secara makro, sumberdaya yang dimiliki hampir sama.

Tidak hanya itu, tantangan yang dihadapi juga relatif akan sama. "Mungkin caranya aja yang sedikit berbeda," tutup Fikri.


Tulisan tersebut juga dapat diakses pada tautan berikut:
https://republika.co.id/berita/ekonomi/keuangan/pq6wg3383/hitung-cepat-pengaruhi-pergerakan-pasar-obligasi

Comments

Popular posts from this blog

Ketidakpastian Global Dinilai Tak Ganggu Capital Inflow ke Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Ketidakpastian global beserta perlambatan ekonomi dunia tahun ini diyakini tidak banyak mengganggu aliran modal asing masuk ke negara-negara berkembang atau emerging markets seperti Indonesia. Berdasarkan Laporan Perekonomian Terkini Bank Indonesia, sejumlah strategi pelonggaran kebijakan moneter hampir di seluruh belahan dunia belum membuahkan hasil bagi perbaikan ekonomi dunia. Laporan itu memerinci, ketegangan ekonomi akibat perang dagang membuat rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini hanya akan mencapai 3,0% (yoy) dari tahun sebelumnya 3,6% (yoy) berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF). Adapun perbaikan diyakini mulai terjadi pada 2020 dengan perkiraan naik tipis 3,1% (yoy). Sementara itu, Bank Indonesia sendiri masih cukup optimistis memprakirakan ekonomi dunia tahun ini bisa mencapai 3,2% (yoy), dan akan membaik atau rebound pada 2020 menjadi 3,3% (yoy). Kondisi tersebut dipicu oleh menurunnya volume perdagangan dunia, alhasil ...

CDS Indonesia kembali naik dipicu situasi politik dalam negeri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sentimen global masih kuat menekan persepsi risiko investasi Indonesia bergerak ke level yang semakin buruk. Apalagi, kondisi politik dalam negeri yang memanas juga turut mengikis kepercayaan investor asing. Mengutip Bloomberg, indeks persepsi risiko atau Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun berada di level 108,75 pada perdagangan, Jumat (24/5). Dalam sepekan level tersebut naik 3,46 basis poin dan semakin meninggalkan level terendahnya di 82,40 sejak Maret lalu. Kompak, CDS Indonesia tenor 10 tahun juga cenderung naik ke level 183,00 pada perdagangan Kamis (23/5). CDS 10 tahun ini juga semakin meninggalkan level terendahnya di 157,85 sejak April lalu. Sekadar informasi, level CDS yang semakin tinggi menunjukkan kekhawatiran investor asing terhadap investasi di pasar Indonesia semakin tinggi. Research Analyst Capital Asset Management Desmon Silitonga mengatakan kondisi politik dalam negeri yang sempat memanas memang mempengaruhi level CDS ja...

PR Otoritas Fiskal dan Moneter Pasca Paket Kebijakan Ekonomi

Sinyal positif mulai disebarkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia seiring dengan paket kebijakan ekonomi I dan II yang telah diumumkan pada 9 dan 29 September lalu. Walaupun dinilai agak terlambat, namun setidaknya paket kebijakan yang diumumkan mulai menampakkan arah yang jelas, utamanya dalam mendorong perekonomian di sisi penawaran (supply side). Disamping itu, integrasi sisi fiskal dan moneter yang dalam satu tahun belakangan terlihat kurang padu, mulai memperlihatkan keselarasan bauran kebijakan sesuai dengan daya jangkaunya masing-masing. Walaupun begitu, baik pemerintah dan Bank Indonesia masih menyisakan beberapa pekerjaan rumah (PR) guna mendorong perekonomian Indonesia menjadi lebih inklusif dan berkesinambungan. PR Bagi Otoritas Fiskal Dari sisi pemerintah (atau dari sisi fiskal), paket kebijakan diwarnai oleh deregulasi utamanya bagi sektor investasi. Sayangnya, sepertinya hal ini baru akan berdampak dalam jangka menengah-panjang. Ini dikarenakan deregulasi lebih diarahka...