Skip to main content

Hasi lelang SBSN sukses meski penyerapan pemerintah turun

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jelang pemilihan umum (Pemilu) pelaku pasar tetap stabil masuk ke lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk negara, Selasa (16/4).

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, jumlah penawaran yang masuk pada lelang SBSN, Selasa (16/4) sebesar Rp 18,52 triliun. Minat pelaku pasar pada lelang kali ini cenderung stabil karena jumlah penawaran yang masuk pada lelang SBSN dua pekan sebelumnya berjumlah Rp 18,41 triliun.

Pengamat Pasar Obligasi Anil Kumar mengatakan stabilnya jumlah penawaran yang masuk jelang Pemilu merupakan hasil yang baik.

Sementara, dalam lelang kali ini justru penyerapan pemerintah yang menurun dari Rp 8,03 triliun di lelang dua pekan lalu menjadi Rp 6,06 triliun.

Fikri C. Permana, Ekonom Pefindo mengatakan di tengah ketidakpastian akibat Pemilu pemerintah jadi membatasi penyerapan untuk menjaga yield agar tidak melambung.

"Dengan permintaan pelaku pasar yang lebih kecil berpotensi membuat yield naik, sehingga pemerintah menyadari hal ini dan berusaha menjaga yield agar tidak naik dengan membatasi penyerapan," kata Fikri, Selasa (16/4).

Secara historikal, Fikri mengatakan dua minggu setelah Pemilu jumlah permintaan terhadap Surat Berharga Negara (SBN) akan cenderung stabil. Baru di Juni atau juli jumlah permintaan akan kembali tinggi setelah masa puasa dan Lebaran selesai.

Sementara, Anil mengatakan penyerapan pemerintah menurun karena dari penerbitan SBN dari kuartal ke kuartal juga menurun. Di kuartal I penerbitan SBN sekitar Rp 185 triliun dan di kuartal II ditargetkan sekitar Rp 128 triliun. Penurunan penerbitan terjadi karena kebutuhan pemerintah mulai terpenuhi, sehingga penyerapan juga berkurang.

"Pemerintah menyerap sesuai dengan kebutuhannya saja," kata Anil.


Tulisan diatas juga dapat dilihat pada tautan berikut:
https://investasi.kontan.co.id/news/hasi-lelang-sbsn-sukses-meski-penyerapan-pemerintah-turun

Comments

Popular posts from this blog

Investor Takut, Penawaran di Lelang SUN Menciut

Bisnis.com, JAKARTA — Kekhawatiran investor terhadap penanganan penyebaran COVID-19 di Indonesia membuat jumlah penawaran yang masuk dalam lelang surat utang negara (SUN) kian menciut. Dalam lelang yang digelar hari ini, Selasa (14/4/2020), total penawaran yang masuk mencapai Rp27,65 triliun. Jumlah itu merupakan yang terendah sepanjang tahun berjalan. Total nominal yang dimenangkan pemerintah dalam lelang tersebut mencapai Rp16,88 triliun. Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana mengatakan angka penawaran yang rendah dalam lelang SUN hari ini disebabkan kekhawatiran investor terhadap penanganan COVID-19 di Indonesia. Terlebih, berbagai upaya yang dilakukan belum membuat kurva penyebaran melandai. “Hal ini dikhawatirkan akan memperpanjang risiko perekonomian dan recovery Indonesia,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (14/4/2020). Fikri menilai minimnya penawaran yang masuk dalam lelang SUN bukan disebabkan oleh risk appetite. Menurutnya, SUN semestikan r...

CAPITAL FLOW AND MACROECONOMIC STABILITY IN INDONESIA

1. Latar Belakang Fenomena aliran modal (capital flow) di suatu negara merupakan hal yang selalu menarik untuk dibahas.Penalver (2003) bahwa capital flow yang terjadi di negara-negara berkembang (emerging market) terjadi dalam suatu siklus tertentu yang disertai dengan ledakan peminjaman (boom in lending) yang tidak jarang disertai dengan krisis keuangan (financial crises) di masa depan. Dalam periode belakangan ini meningkatnya tantangan bagi perekonomian di negara-negara berkembang (emerging market economies) juga disebabkan perlunya pengawasan terhadap recovery capital inflow menuju kawasan ini semenjak terjadinya sudden stop di akhir tahun 2008 dan di awal 2009 (Ostry, et al, 2011).Sebagai ilustrasi, capital inflow dapat meningkatkan investasi domestik (Mileva, 2008), dapat meningkatkan likuiditas dan mengurangi cost of capital (Bekaert dan Havey, 2000), menimbulkan collateral benefits , dan berujung pada peningkatan pertumbuhan ekonomi (Ito, 1999). Namun disisi lain, capital inflow...

SCHUMPETERIAN GROWTH THEORY DAN FAKTA EMPIRIS PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA

1. Perkembangan Teori Ekonomi Pembangunan Basu (1997) mengelompokkan teori pembangunan ekonomi yang berkembang saat ini menjadi tiga, yakni teori Harod-Domar ; Neoclassical model; dan theory of endogenous growth. Seperti namanya, teori Harod-Domar dikembangkan oleh Harod dan Domar yang pada intinya menjelaskan tentang perkembangan dinamis dari Keynesian-macroeconomics bagi perekonomian Kapitalis dengan mendasarkan pemikirannya pada pertumbuhan modal (capital) dan tenaga kerja (labor) sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya, teori ini disempurnakan melalui Neo-classical model yang dikembangkan oleh Solow dan Swan (1956), yang menambahkan beberapa properties, yakni terjadinya constant return to scale, adanya Law of diminishing return, dan terdapatnya Inada condition dalam perekonomian. Pada perkembangannya, teori neoclassical pun pada semakin disempurnakan dengan suatu teori yang dinamakan Endogenous Growth Theory, dengan menambahkan beberapa factor endogen ke dalam model. Hal i...