Skip to main content

Ekonom: Prospek penerbitan global bond tahun ini cenderung stabil

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun ini sejumlah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berencana menerbitkan obligasi berdenominasi valuta asing (valas) alias global bond. Langkah ini dilakukan seiring kembali stabilnya likuiditas dan menguatnya kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Setidaknya ada empat BUMN yang dipastikan akan merilis global bond antara lain PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN), PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN).

Ekonom Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana menilai prospek penerbitan global bond cenderung stabil jika dilaksanakan di tahun ini.

Sejauh ini tujuan penerbitan global bond didorong oleh kebutuhan perusahaan penerbit surat utang terhadap dollar AS yang menentukan denominasi penerbitan utang tersebut. Sehingga saat rupiah terapresiasi atau terdepresiasi tidak terlalu berpengaruh banyak terhadap penerbitan secara umum.

Katanya walaupun mungkin jika terjadi apresiasi rupiah maka akan ada sedikit penurunan penerimaan dari surat utang tersebut saat dikonversikan.

Fikri berpendapat waktu yang tepat bagi institusi untuk mengeluarkan global bond lebih kepada kapan kebutuhan dari institusi tersebut. “Jika memang kebutuhannya dalam waktu cepat, lebih cepat akan lebih baik,” kata Fikri kepada Kontan.co.id, Rabu (20/3).

Namun mungkin yang perlu menjadi pertimbangan adalah durasi dari surat utang tersebut agar tidak membebani kas institusi di masa depan saat jatuh tempo pembayaran.

Fikri bilang, tahun lalu ada banyak dampak eksternal karena volatilitas dan tekanan terhadap pasar modal global dan khususnya emerging market sangat besar. Sehingga mendorong besarnya sentimen negatif serta permintaan terhadap produk-produk keuangan emerging market termasuk surat utang yang dikeluarkan institusi domestik yang memungkinkan risiko premi atau cost of fund makin tinggi.

Karenanya, tahun lalu penerbitan global bond oleh korporasi tidak terlalu marak.

Nah, pada tahun ini sentimen negatif cenderung terminimalisasi. Risiko The Fed menaikkan suku bunga acuan berkurang di tahun ini. Begitu pula dengan perang dagang AS-China yang mulai mereda.

Sementara dari internal tahun ini diuntungkan dengan adanya data-data fundamental ekonomi Indonesia lebih baik sehingga membuat ruang gerak mata uang Garuda lebih luas.

Kata Fikri, imbal hasil yang ditawarkan oleh institusi swasta mungkin akan sedikit di atas global bond yang diterbitkan pemerintah. Berkaca pada imbal hasil penerbitan global bond pemerintah dengan tenor lima tahun sebesar 3,9% dan tenor 10 tahun 4,45%.

“Mungkin untuk institusi market leader seperti PLN, Mandiri, BRI, mungkin akan sama dengan nilai tersebut atau maksimal lebih tinggi 50 bps,” tutur Fikri. 

Ia menegaskan skenario tersebut dapat terjadi bila yield turun saat ini. Sementara untuk BTN, imbal hasil bisa sekitar 5 bps-15 bps lebih tinggi dengan tenor yang sama.

Konsumsi domestik diprediksi akan tumbuh kuat di tahun ini. Ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjadikan pasar keuangan Indonesia tetap menarik di mata asing serta berujung menjaga stabilitas.

Di sisi lain ancaman tidak serta merta hilang dari penerbitan global bond. Sentimen datang dari pertumbuhan ekonomi China yang diproyeksikan akan menurun. Ekonomi terbesar kedua di dunia itu memperkirakan produk domestik brutonya (PDB) hanya tumbuh di kisaran 6%-6,5% tahun ini, menurut data dalam laporan pembukaan sesi rapat tahunan Kongres Nasional China.




Tulisan tersebut juga dapat diakses pada tautan berikut:


Comments

Popular posts from this blog

Ketidakpastian Global Dinilai Tak Ganggu Capital Inflow ke Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Ketidakpastian global beserta perlambatan ekonomi dunia tahun ini diyakini tidak banyak mengganggu aliran modal asing masuk ke negara-negara berkembang atau emerging markets seperti Indonesia. Berdasarkan Laporan Perekonomian Terkini Bank Indonesia, sejumlah strategi pelonggaran kebijakan moneter hampir di seluruh belahan dunia belum membuahkan hasil bagi perbaikan ekonomi dunia. Laporan itu memerinci, ketegangan ekonomi akibat perang dagang membuat rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini hanya akan mencapai 3,0% (yoy) dari tahun sebelumnya 3,6% (yoy) berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF). Adapun perbaikan diyakini mulai terjadi pada 2020 dengan perkiraan naik tipis 3,1% (yoy). Sementara itu, Bank Indonesia sendiri masih cukup optimistis memprakirakan ekonomi dunia tahun ini bisa mencapai 3,2% (yoy), dan akan membaik atau rebound pada 2020 menjadi 3,3% (yoy). Kondisi tersebut dipicu oleh menurunnya volume perdagangan dunia, alhasil ...

CDS Indonesia kembali naik dipicu situasi politik dalam negeri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sentimen global masih kuat menekan persepsi risiko investasi Indonesia bergerak ke level yang semakin buruk. Apalagi, kondisi politik dalam negeri yang memanas juga turut mengikis kepercayaan investor asing. Mengutip Bloomberg, indeks persepsi risiko atau Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun berada di level 108,75 pada perdagangan, Jumat (24/5). Dalam sepekan level tersebut naik 3,46 basis poin dan semakin meninggalkan level terendahnya di 82,40 sejak Maret lalu. Kompak, CDS Indonesia tenor 10 tahun juga cenderung naik ke level 183,00 pada perdagangan Kamis (23/5). CDS 10 tahun ini juga semakin meninggalkan level terendahnya di 157,85 sejak April lalu. Sekadar informasi, level CDS yang semakin tinggi menunjukkan kekhawatiran investor asing terhadap investasi di pasar Indonesia semakin tinggi. Research Analyst Capital Asset Management Desmon Silitonga mengatakan kondisi politik dalam negeri yang sempat memanas memang mempengaruhi level CDS ja...

PR Otoritas Fiskal dan Moneter Pasca Paket Kebijakan Ekonomi

Sinyal positif mulai disebarkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia seiring dengan paket kebijakan ekonomi I dan II yang telah diumumkan pada 9 dan 29 September lalu. Walaupun dinilai agak terlambat, namun setidaknya paket kebijakan yang diumumkan mulai menampakkan arah yang jelas, utamanya dalam mendorong perekonomian di sisi penawaran (supply side). Disamping itu, integrasi sisi fiskal dan moneter yang dalam satu tahun belakangan terlihat kurang padu, mulai memperlihatkan keselarasan bauran kebijakan sesuai dengan daya jangkaunya masing-masing. Walaupun begitu, baik pemerintah dan Bank Indonesia masih menyisakan beberapa pekerjaan rumah (PR) guna mendorong perekonomian Indonesia menjadi lebih inklusif dan berkesinambungan. PR Bagi Otoritas Fiskal Dari sisi pemerintah (atau dari sisi fiskal), paket kebijakan diwarnai oleh deregulasi utamanya bagi sektor investasi. Sayangnya, sepertinya hal ini baru akan berdampak dalam jangka menengah-panjang. Ini dikarenakan deregulasi lebih diarahka...