Skip to main content

Rupiah Menanti Keputusan Bunga Acuan BI

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah mulai terbatas. Rabu (19/2), kurs rupiah di pasar spot melemah tipis 0,01% ke posisi Rp 13.695 per dollar Amerika Serikat (AS).

Ekonom Pefindo Fikri C. Permana melihat, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh penguatan dollar AS.

Menguatnya harga minyak dunia jenis Brent juga menahan laju penguatan rupiah.

Untuk hari ini (20/2), Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan memprediksi, kurs rupiah lebih disetir sentimen internal.

"Pergerakan rupiah kemungkinan akan banyak dipengaruhi oleh hasil dari Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia," kata dia, kemarin.

Menurut Fikri, hari ini, BI kemungkinan menurunkan suku bunga acuan Februari 2020 sebesar 25 basis poin.

Saat ini, bunga acuan 7-days repo rate ada di posisi 5%.

Namun, tekanan pada rupiah masih berlanjut.

"Pelaku pasar masih risk aversion. Investor masih akan memburu aset safe haven," seperti dollar AS dan emas, kata Fikri.

Fikri memprediksi, kurs rupiah akan berada di rentang Rp 13.660-Rp 13.780 per dollar AS.

Sementara menurut hitungan Yudi, rupiah akan di bergerak di Rp 13.640-Rp 13.720 per dollar AS.


Tulisan diatas juga dapat dibaca pada tautan berikut:
https://insight.kontan.co.id/news/rupiah-menanti-keputusan-bunga-acuan-bi

Comments

Popular posts from this blog

Investor Takut, Penawaran di Lelang SUN Menciut

Bisnis.com, JAKARTA — Kekhawatiran investor terhadap penanganan penyebaran COVID-19 di Indonesia membuat jumlah penawaran yang masuk dalam lelang surat utang negara (SUN) kian menciut. Dalam lelang yang digelar hari ini, Selasa (14/4/2020), total penawaran yang masuk mencapai Rp27,65 triliun. Jumlah itu merupakan yang terendah sepanjang tahun berjalan. Total nominal yang dimenangkan pemerintah dalam lelang tersebut mencapai Rp16,88 triliun. Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana mengatakan angka penawaran yang rendah dalam lelang SUN hari ini disebabkan kekhawatiran investor terhadap penanganan COVID-19 di Indonesia. Terlebih, berbagai upaya yang dilakukan belum membuat kurva penyebaran melandai. “Hal ini dikhawatirkan akan memperpanjang risiko perekonomian dan recovery Indonesia,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (14/4/2020). Fikri menilai minimnya penawaran yang masuk dalam lelang SUN bukan disebabkan oleh risk appetite. Menurutnya, SUN semestikan r...

CAPITAL FLOW AND MACROECONOMIC STABILITY IN INDONESIA

1. Latar Belakang Fenomena aliran modal (capital flow) di suatu negara merupakan hal yang selalu menarik untuk dibahas.Penalver (2003) bahwa capital flow yang terjadi di negara-negara berkembang (emerging market) terjadi dalam suatu siklus tertentu yang disertai dengan ledakan peminjaman (boom in lending) yang tidak jarang disertai dengan krisis keuangan (financial crises) di masa depan. Dalam periode belakangan ini meningkatnya tantangan bagi perekonomian di negara-negara berkembang (emerging market economies) juga disebabkan perlunya pengawasan terhadap recovery capital inflow menuju kawasan ini semenjak terjadinya sudden stop di akhir tahun 2008 dan di awal 2009 (Ostry, et al, 2011).Sebagai ilustrasi, capital inflow dapat meningkatkan investasi domestik (Mileva, 2008), dapat meningkatkan likuiditas dan mengurangi cost of capital (Bekaert dan Havey, 2000), menimbulkan collateral benefits , dan berujung pada peningkatan pertumbuhan ekonomi (Ito, 1999). Namun disisi lain, capital inflow...

SCHUMPETERIAN GROWTH THEORY DAN FAKTA EMPIRIS PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA

1. Perkembangan Teori Ekonomi Pembangunan Basu (1997) mengelompokkan teori pembangunan ekonomi yang berkembang saat ini menjadi tiga, yakni teori Harod-Domar ; Neoclassical model; dan theory of endogenous growth. Seperti namanya, teori Harod-Domar dikembangkan oleh Harod dan Domar yang pada intinya menjelaskan tentang perkembangan dinamis dari Keynesian-macroeconomics bagi perekonomian Kapitalis dengan mendasarkan pemikirannya pada pertumbuhan modal (capital) dan tenaga kerja (labor) sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya, teori ini disempurnakan melalui Neo-classical model yang dikembangkan oleh Solow dan Swan (1956), yang menambahkan beberapa properties, yakni terjadinya constant return to scale, adanya Law of diminishing return, dan terdapatnya Inada condition dalam perekonomian. Pada perkembangannya, teori neoclassical pun pada semakin disempurnakan dengan suatu teori yang dinamakan Endogenous Growth Theory, dengan menambahkan beberapa factor endogen ke dalam model. Hal i...