Skip to main content

Posts

Ekonom Sebut Rupiah Masih Bisa Tertekan karena Isu Eksternal

TRIBUNWOW.COM - Kondisi ekonomi global menjadi satu diantara faktor penyebab gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Fikri C Permana memproyeksikan rupiah masih bisa tertekan hingga pekan depan. Hal ini disebabkan oleh pernyataan dan konflik ekonomi Presiden AS, Donald Trump yang memicu gejolak ekonomi dunia. "Beberapa waktu terakhir pernyataan Trump menambah dorongan pada tensi perdagangan dunia dan menimbulkan currency wall serta membuat pasar panik," ujar Fikri, dilansir TribunWow.com dari Kontan.co.id, Jumat (7/9/2018),  Pernyataan Donald Trump yang tak diduga oleh pelaku pasar dan menjadi risiko di antaranya kenaikan tarif impor China dan perang dagang antara AS dengan Jepang. Fikri memproyeksikan pada Senin (10/9/2018), rupiah berada di level Rp 14.800 hingga Rp 14.900 per dolar AS. Sementara selama pekan depan, Fikri memproyeksikan rupiah berada di range Rp 14.750 hingga Rp...

Update Makroekonomi Panin-Januari 2016

Fed Rate Hike-I dan “Adem”-nya Pasar Keuangan Indonesia

Fed Rate Hike-I Ada hal yang menarik setelah terjadinya kenaikan suku bunga The Fed (atau Fed Fund Rate – FFR) pada Rabu (16 Desember 2015) lalu. Hal ini khususnya terlihat dari pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap USD. Diiringi dengan ketakutan akan terjadinya capital outflow , nyatanya setelah pengumuman Fed rate hike USD seakan kehilangan tajinya terhadap Rupiah. Bahkan pada 22 Desember 2015, Rupiah mengalami apresiasi 1,85% terhadap USD, tertinggi dalam 2 bulan terakhir. Di satu sisi, tentunya hal ini menandakan kinerja Rupiah yang membaik seiring waktu. Namun mengingat kemungkinan masih adanya Fed-rate hike lanjutan, dengan kemungkinan adanya kenaikan FFR hingga 4 kali di tahun mendatang, kewaspadaan terkait anjloknya nilai Rupiah ke depan tentu masih perlu ditingkatkan. Mengingat kondisi historis rupiah yang malah cenderung lebih rentan terhadap isu dan perilaku spekulasi. Terakhir, kondisi ini terlihat pada kurs Rupiah terhadap USD yang malah terdepresiasi tajam s...

PR Otoritas Fiskal dan Moneter Pasca Paket Kebijakan Ekonomi

Sinyal positif mulai disebarkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia seiring dengan paket kebijakan ekonomi I dan II yang telah diumumkan pada 9 dan 29 September lalu. Walaupun dinilai agak terlambat, namun setidaknya paket kebijakan yang diumumkan mulai menampakkan arah yang jelas, utamanya dalam mendorong perekonomian di sisi penawaran (supply side). Disamping itu, integrasi sisi fiskal dan moneter yang dalam satu tahun belakangan terlihat kurang padu, mulai memperlihatkan keselarasan bauran kebijakan sesuai dengan daya jangkaunya masing-masing. Walaupun begitu, baik pemerintah dan Bank Indonesia masih menyisakan beberapa pekerjaan rumah (PR) guna mendorong perekonomian Indonesia menjadi lebih inklusif dan berkesinambungan. PR Bagi Otoritas Fiskal Dari sisi pemerintah (atau dari sisi fiskal), paket kebijakan diwarnai oleh deregulasi utamanya bagi sektor investasi. Sayangnya, sepertinya hal ini baru akan berdampak dalam jangka menengah-panjang. Ini dikarenakan deregulasi lebih diarahka...

Penyebab “Over Supply” Pasar Minyak Dunia

Tulisan ini sudah dibuat di awal Noevember tahun lalu sih (2014), dan dikirimkan ke salah satu koran ternama dalam negeri, sayangnya gak tembus..hehehehe. Daripada terbuang sayang Penurunan harga minyak dunia telah mencapai 40% semenjak Juni 2014 (hingga Desember 2014). Bahkan pada 9 Desember, harga minyak Brent menyentuh level terendahnya dalam 5 tahun terakhir (hingga mencapai angka USD 66 per barel). Bagi negara-negara yang memiliki ketergantungan ekonomi (khususnya ekspor) yang tinggi terhadap minyak, hal ini merupakan suatu kabar yang kurang menyenanngkan. Venezuela contohnya, dimana komposisi ekspor minyak sebesar 96% dari total ekspor negara mereka, belum ditambah dengan pasar ekspor utama mereka (Amerika Serikat) yang semakin gencar menambah produksi dalam negeri. Akibatnya, penurunan harga minyak telah menyebabkan nilai ekspor mereka menurun, pendapatan perusahaan-perusahaan minyak (yang merupakan perusahaan negara) pun menjadi jauh berkurang, sehingga pendapat...