Skip to main content

Ekonom Sebut Rupiah Masih Bisa Tertekan karena Isu Eksternal

TRIBUNWOW.COM - Kondisi ekonomi global menjadi satu diantara faktor penyebab gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Fikri C Permana memproyeksikan rupiah masih bisa tertekan hingga pekan depan.

Hal ini disebabkan oleh pernyataan dan konflik ekonomi Presiden AS, Donald Trump yang memicu gejolak ekonomi dunia.

"Beberapa waktu terakhir pernyataan Trump menambah dorongan pada tensi perdagangan dunia dan menimbulkan currency wall serta membuat pasar panik," ujar Fikri, dilansir TribunWow.com dari Kontan.co.id, Jumat (7/9/2018), 

Pernyataan Donald Trump yang tak diduga oleh pelaku pasar dan menjadi risiko di antaranya kenaikan tarif impor China dan perang dagang antara AS dengan Jepang.

Fikri memproyeksikan pada Senin (10/9/2018), rupiah berada di level Rp 14.800 hingga Rp 14.900 per dolar AS.

Sementara selama pekan depan, Fikri memproyeksikan rupiah berada di range Rp 14.750 hingga Rp 15.050 per dolar AS.

Menurut Fikri, pelemahan nilai tukar rupiah secara garis besar dipengaruhi faktor eksternal.

Namun akhirnya pelaku pasar memberikan respons positif terhadap intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI).

Dalam menjaga nilai rupiah, BI melakukan intervensi di pasar valas maupun Surat Berharga Negara (SBN) hingga Rp 7,1 triliun.

"Intervensi BI sudah cukup banyak agak terlalu riskan kalau BI terus mengguyur pasar keuangan dengan rupiah," jelas Fikri.

Dikutip dari bi.go.id, hingga Jumat (7/9/2018), nilai tukar rupiah mencapai Rp 14.884 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor).

Sedangkan kurs transaksi Bank Indonesia menunjukkan Rp 14.958 per dolar AS untuk kurs jual dan Rp 14.810 untuk kurs beli.




Tulisan tersebut juga dapat diakses pada tautan berikut:

Comments

Popular posts from this blog

Investor Takut, Penawaran di Lelang SUN Menciut

Bisnis.com, JAKARTA — Kekhawatiran investor terhadap penanganan penyebaran COVID-19 di Indonesia membuat jumlah penawaran yang masuk dalam lelang surat utang negara (SUN) kian menciut. Dalam lelang yang digelar hari ini, Selasa (14/4/2020), total penawaran yang masuk mencapai Rp27,65 triliun. Jumlah itu merupakan yang terendah sepanjang tahun berjalan. Total nominal yang dimenangkan pemerintah dalam lelang tersebut mencapai Rp16,88 triliun. Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana mengatakan angka penawaran yang rendah dalam lelang SUN hari ini disebabkan kekhawatiran investor terhadap penanganan COVID-19 di Indonesia. Terlebih, berbagai upaya yang dilakukan belum membuat kurva penyebaran melandai. “Hal ini dikhawatirkan akan memperpanjang risiko perekonomian dan recovery Indonesia,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (14/4/2020). Fikri menilai minimnya penawaran yang masuk dalam lelang SUN bukan disebabkan oleh risk appetite. Menurutnya, SUN semestikan r...

CAPITAL FLOW AND MACROECONOMIC STABILITY IN INDONESIA

1. Latar Belakang Fenomena aliran modal (capital flow) di suatu negara merupakan hal yang selalu menarik untuk dibahas.Penalver (2003) bahwa capital flow yang terjadi di negara-negara berkembang (emerging market) terjadi dalam suatu siklus tertentu yang disertai dengan ledakan peminjaman (boom in lending) yang tidak jarang disertai dengan krisis keuangan (financial crises) di masa depan. Dalam periode belakangan ini meningkatnya tantangan bagi perekonomian di negara-negara berkembang (emerging market economies) juga disebabkan perlunya pengawasan terhadap recovery capital inflow menuju kawasan ini semenjak terjadinya sudden stop di akhir tahun 2008 dan di awal 2009 (Ostry, et al, 2011).Sebagai ilustrasi, capital inflow dapat meningkatkan investasi domestik (Mileva, 2008), dapat meningkatkan likuiditas dan mengurangi cost of capital (Bekaert dan Havey, 2000), menimbulkan collateral benefits , dan berujung pada peningkatan pertumbuhan ekonomi (Ito, 1999). Namun disisi lain, capital inflow...

SCHUMPETERIAN GROWTH THEORY DAN FAKTA EMPIRIS PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA

1. Perkembangan Teori Ekonomi Pembangunan Basu (1997) mengelompokkan teori pembangunan ekonomi yang berkembang saat ini menjadi tiga, yakni teori Harod-Domar ; Neoclassical model; dan theory of endogenous growth. Seperti namanya, teori Harod-Domar dikembangkan oleh Harod dan Domar yang pada intinya menjelaskan tentang perkembangan dinamis dari Keynesian-macroeconomics bagi perekonomian Kapitalis dengan mendasarkan pemikirannya pada pertumbuhan modal (capital) dan tenaga kerja (labor) sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya, teori ini disempurnakan melalui Neo-classical model yang dikembangkan oleh Solow dan Swan (1956), yang menambahkan beberapa properties, yakni terjadinya constant return to scale, adanya Law of diminishing return, dan terdapatnya Inada condition dalam perekonomian. Pada perkembangannya, teori neoclassical pun pada semakin disempurnakan dengan suatu teori yang dinamakan Endogenous Growth Theory, dengan menambahkan beberapa factor endogen ke dalam model. Hal i...