Skip to main content

Ini Dia Dampak Positif Kerja sama Penghindaran Pajak Berganda Indonesia-Singapura

Bisnis.com, JAKARTA -- Prediksi penurunan ekonomi Singapura oleh IMF, dinilai tidak akan mengganggu kerja sama Indonesia dan Singapura untuk perjanjian penghindaran pajak berganda atau avoidance of double taxation.

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana menyatakan, negosiasi ini seharusnya menguntungkan bagi Indonesia.

Dia beralasan bahwa selama ini pajak dikenakan bersumber dari negara asal maupun negara tujuan. Alhasil, saat Indonesia melakukan ekspor, pajak berlaku di Indonesia begitupula di Singapura.

"Sehingga barangnya kurang konpetitif di pasar global," papar Fikri kepada Bisnis.com, Rabu (17/7/2019).

Dia menyebut kondisi ini juga berlaku dalam mekanisme impor. Barang impor terkena pajak di Singapura maupun di Indonesia.

"Sehingga selama ini konsumen mendapat harga yang tinggi," paparnya.

Fikri menilai kerja sama ini wajib mematuhi asas transparansi sehingga penerimaan pajak dari kerja sama ini tidak menipis.

Dengan demikian upaya meningkatkan competitiveness advantage produk Indonesia, mempermudah supply chain, dan memperkecil dead weight loss baik bagi konsumen ataupun produsen bisa terwujud.

"Birokrasi dituntut lebih transparan dan semakin optimal. Sehingga hal-hal yang kurang diinginkan bisa diminimalisir," papar Fikri.

Sementara itu, Dana Moneter International (IMF), memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi Singapura menjadi 2% hingga akhir 2019 karena ketegangan perdagangan global mengurangi permintaan ekspor.

Fikri menyebut hal ini tidak berdampak besar bagi Indonesia. Meski demikian, dampak ini bisa lebih besar bagi negara-negara Asia Tenggara lain.

"Kalau dari segi investasi, lebih besar sentimen negatif terhadap negara Asean saja. Karena kita tahu perekonomian paling advanced di Asean, ya Singapura," paparnya.

Fikri beralasan kondisi ini dipicu oleh ketergantungan Indonesia terhadap ekspor ke Singapura yang makin menurun.

"Ini relatif akan netral karena saya melihat sekarang, ekonomi Indonesia relatif lebih didominasi oleh dovish stance bank sentral dan risiko trade war, dibanding dampak resesi Singapura," terangnya.



Tulisan diatas juga dapat dilihat pada tautan berikut:
https://kabar24.bisnis.com/read/20190717/19/1125488/ini-dia-dampak-positif-kerja-sama-penghindaran-pajak-berganda-indonesia-singapura

Comments

Popular posts from this blog

Ketidakpastian Global Dinilai Tak Ganggu Capital Inflow ke Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Ketidakpastian global beserta perlambatan ekonomi dunia tahun ini diyakini tidak banyak mengganggu aliran modal asing masuk ke negara-negara berkembang atau emerging markets seperti Indonesia. Berdasarkan Laporan Perekonomian Terkini Bank Indonesia, sejumlah strategi pelonggaran kebijakan moneter hampir di seluruh belahan dunia belum membuahkan hasil bagi perbaikan ekonomi dunia. Laporan itu memerinci, ketegangan ekonomi akibat perang dagang membuat rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini hanya akan mencapai 3,0% (yoy) dari tahun sebelumnya 3,6% (yoy) berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF). Adapun perbaikan diyakini mulai terjadi pada 2020 dengan perkiraan naik tipis 3,1% (yoy). Sementara itu, Bank Indonesia sendiri masih cukup optimistis memprakirakan ekonomi dunia tahun ini bisa mencapai 3,2% (yoy), dan akan membaik atau rebound pada 2020 menjadi 3,3% (yoy). Kondisi tersebut dipicu oleh menurunnya volume perdagangan dunia, alhasil ...

CDS Indonesia kembali naik dipicu situasi politik dalam negeri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sentimen global masih kuat menekan persepsi risiko investasi Indonesia bergerak ke level yang semakin buruk. Apalagi, kondisi politik dalam negeri yang memanas juga turut mengikis kepercayaan investor asing. Mengutip Bloomberg, indeks persepsi risiko atau Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun berada di level 108,75 pada perdagangan, Jumat (24/5). Dalam sepekan level tersebut naik 3,46 basis poin dan semakin meninggalkan level terendahnya di 82,40 sejak Maret lalu. Kompak, CDS Indonesia tenor 10 tahun juga cenderung naik ke level 183,00 pada perdagangan Kamis (23/5). CDS 10 tahun ini juga semakin meninggalkan level terendahnya di 157,85 sejak April lalu. Sekadar informasi, level CDS yang semakin tinggi menunjukkan kekhawatiran investor asing terhadap investasi di pasar Indonesia semakin tinggi. Research Analyst Capital Asset Management Desmon Silitonga mengatakan kondisi politik dalam negeri yang sempat memanas memang mempengaruhi level CDS ja...

PR Otoritas Fiskal dan Moneter Pasca Paket Kebijakan Ekonomi

Sinyal positif mulai disebarkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia seiring dengan paket kebijakan ekonomi I dan II yang telah diumumkan pada 9 dan 29 September lalu. Walaupun dinilai agak terlambat, namun setidaknya paket kebijakan yang diumumkan mulai menampakkan arah yang jelas, utamanya dalam mendorong perekonomian di sisi penawaran (supply side). Disamping itu, integrasi sisi fiskal dan moneter yang dalam satu tahun belakangan terlihat kurang padu, mulai memperlihatkan keselarasan bauran kebijakan sesuai dengan daya jangkaunya masing-masing. Walaupun begitu, baik pemerintah dan Bank Indonesia masih menyisakan beberapa pekerjaan rumah (PR) guna mendorong perekonomian Indonesia menjadi lebih inklusif dan berkesinambungan. PR Bagi Otoritas Fiskal Dari sisi pemerintah (atau dari sisi fiskal), paket kebijakan diwarnai oleh deregulasi utamanya bagi sektor investasi. Sayangnya, sepertinya hal ini baru akan berdampak dalam jangka menengah-panjang. Ini dikarenakan deregulasi lebih diarahka...