Skip to main content

Melihat tantangan penerbitan obligasi global di tengah ketidakpastian pasar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Walau obligasi global atau global bond masih menjadi instrumen alternatif bagi para investor, tantangan penerbitan instrumen ini cukup berat di tengah berbagai sentimen negatif berskala global.

Seperti yang diketahui, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah menerbitkan obligasi global pada bulan ini dalam dua mata uang, yaitu US$ 1 miliar dan € 500 juta. Di sisi lain, PT Pertamina (Persero) belum lama ini menunda penerbitan obligasi global senilai lebih dari US$ 2 miliar.

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia, Fikri C. Permana mengatakan, sebenarnya ketika depresiasi rupiah kerap terjadi belakangan ini, penerbitan obligasi global dapat menjadi opsi alternatif bagi perusahaan yang ingin memperoleh pendanaan dalam jumlah besar. Sebab, perusahaan bisa memperoleh keuntungan optimal dari konversi dana dari dollar AS ke rupiah, dengan catatan obligasi tersebut laris manis ketika ditawarkan kepada investor di luar negeri.

Ia menambahkan, secara makroekonomi, penerbitan obligasi global juga akan berdampak pada masuknya dana berdenominasi dollar AS ke Indonesia. Alhasil, suplai terhadap mata uang tersebut akan bertambah yang nantinya diharapkan dapat membantu stabilitas rupiah.

Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail menilai, permintaan terhadap obligasi global sebenarnya tetap stabil di tengah tren kenaikan yield US Treasury dan obligasi surat utang di negara maju lainnya. “Ini artinya investor asing di luar negeri bisa memperoleh potensi imbal hasil yang lebih optimal,” imbuhnya, Rabu (31/10).

Memang, minat investor terhadap obligasi global yang diterbitkan oleh perusahaan asal Indonesia bisa tersendat ketika persepsi risiko investasi mengalami peningkatan seperti yang terjadi belakangan ini. Namun, hal tersebut tidak menjadi masalah selama perusahaan mampu mengkompensasinya dengan pemberian kupon yang lebih tinggi.

Sayangnya, opsi tersebut justru bisa menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan penerbit obligasi global. Tambahan lagi, tren kenaikan suku bunga acuan juga masih bisa berlanjut sehingga berpotensi menambah beban cost of fund bagi perusahaan yang bersangkutan.

Melihat kondisi tersebut, tak heran apabila ada satu atau dua perusahaan yang akhirnya memilih menunda penerbitan obligasi globalnya.

Mikail pun memperkirakan, tren penerbitan obligasi global akan cenderung melambat selama tren kenaikan suku bunga acuan masih berlangsung. “Kalau perusahaan tidak punya kebutuhan mendesak seperti refinancing utang dollar AS, kemungkinan perusahaan tersebut tidak akan menerbitkan obligasi global,” ungkapnya.

Fikri menambahkan, bagi perusahaan yang tetap ingin menerbitkan obligasi global, ada baiknya melakukan riset yang mendalam mengenai kondisi pasar obligasi di negara tujuan penerbitan instrumennya. Apalagi, gejolak pasar keuangan tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di berbagai negara termasuk negara maju.

“Aspek kapabilitas perusahaan dalam melakukan pembayaran dalam bentuk mata uang asing di masa depan juga penting untuk diperhatikan,” ujar dia.






Tulisan tersebut juga dapat diakses pada tautan berikut:

Comments

Popular posts from this blog

Investor Takut, Penawaran di Lelang SUN Menciut

Bisnis.com, JAKARTA — Kekhawatiran investor terhadap penanganan penyebaran COVID-19 di Indonesia membuat jumlah penawaran yang masuk dalam lelang surat utang negara (SUN) kian menciut. Dalam lelang yang digelar hari ini, Selasa (14/4/2020), total penawaran yang masuk mencapai Rp27,65 triliun. Jumlah itu merupakan yang terendah sepanjang tahun berjalan. Total nominal yang dimenangkan pemerintah dalam lelang tersebut mencapai Rp16,88 triliun. Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana mengatakan angka penawaran yang rendah dalam lelang SUN hari ini disebabkan kekhawatiran investor terhadap penanganan COVID-19 di Indonesia. Terlebih, berbagai upaya yang dilakukan belum membuat kurva penyebaran melandai. “Hal ini dikhawatirkan akan memperpanjang risiko perekonomian dan recovery Indonesia,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (14/4/2020). Fikri menilai minimnya penawaran yang masuk dalam lelang SUN bukan disebabkan oleh risk appetite. Menurutnya, SUN semestikan r...

CAPITAL FLOW AND MACROECONOMIC STABILITY IN INDONESIA

1. Latar Belakang Fenomena aliran modal (capital flow) di suatu negara merupakan hal yang selalu menarik untuk dibahas.Penalver (2003) bahwa capital flow yang terjadi di negara-negara berkembang (emerging market) terjadi dalam suatu siklus tertentu yang disertai dengan ledakan peminjaman (boom in lending) yang tidak jarang disertai dengan krisis keuangan (financial crises) di masa depan. Dalam periode belakangan ini meningkatnya tantangan bagi perekonomian di negara-negara berkembang (emerging market economies) juga disebabkan perlunya pengawasan terhadap recovery capital inflow menuju kawasan ini semenjak terjadinya sudden stop di akhir tahun 2008 dan di awal 2009 (Ostry, et al, 2011).Sebagai ilustrasi, capital inflow dapat meningkatkan investasi domestik (Mileva, 2008), dapat meningkatkan likuiditas dan mengurangi cost of capital (Bekaert dan Havey, 2000), menimbulkan collateral benefits , dan berujung pada peningkatan pertumbuhan ekonomi (Ito, 1999). Namun disisi lain, capital inflow...

SCHUMPETERIAN GROWTH THEORY DAN FAKTA EMPIRIS PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA

1. Perkembangan Teori Ekonomi Pembangunan Basu (1997) mengelompokkan teori pembangunan ekonomi yang berkembang saat ini menjadi tiga, yakni teori Harod-Domar ; Neoclassical model; dan theory of endogenous growth. Seperti namanya, teori Harod-Domar dikembangkan oleh Harod dan Domar yang pada intinya menjelaskan tentang perkembangan dinamis dari Keynesian-macroeconomics bagi perekonomian Kapitalis dengan mendasarkan pemikirannya pada pertumbuhan modal (capital) dan tenaga kerja (labor) sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya, teori ini disempurnakan melalui Neo-classical model yang dikembangkan oleh Solow dan Swan (1956), yang menambahkan beberapa properties, yakni terjadinya constant return to scale, adanya Law of diminishing return, dan terdapatnya Inada condition dalam perekonomian. Pada perkembangannya, teori neoclassical pun pada semakin disempurnakan dengan suatu teori yang dinamakan Endogenous Growth Theory, dengan menambahkan beberapa factor endogen ke dalam model. Hal i...