Skip to main content

Capital Flow&Risk of Capital Reversal in Indonesia


 
It is always interesting to research the phenomenon of capital flow in a country. Some of the predicted benefits of capital inflow are the raise of domestic investment (Mileva, 2008); increase in liqudity and reduce the cost of capital (Bekaert and Harvey, 2000); and also lead to promote economic growth (Ito, 1999). However, capital inflow is also feared to be the sources of increasing probability of having lending boom (Penalver, 2003); increasing liabilities in the future owed by the related countries (Eichengreen, 2006); and threat of capital reversal particularly in the form of porfolio investment (Ostry, et al, 2010).

Private Portfolio Liabilities (PPL) represent a measure of capital inflow (from non-resident) in the form private portfolio ownership in a period of time (annual in the graph); further term of PPL will represent this data. In case of Indonesia, during 1993 to 2011 PPL and GDP growth share almost at a similar trend, although year-by-year movement of the two seems differ with PPL as the more volatile one. From 1993 to 1996, raising of PPL also followed by the raising of GDP growth, vice versa. From 1997 to 1998, a currency and debt crisis arise which in turn drag the economy to its largest decline since the 1960s. From 1999 to 2004, PPL took a slower pace to recover from 1998 crisis than the economy. When the economic growth rate was already up to 5% in 2000, PPL have finally reached a positive 1 billion US Dollars in 2002. In 2005, a distress in Indonesian economy in the form of increasing gasoline selling price and Rupiah large depreciation made the PPL decline, while GDP growth still hanging around 5.7%. Between 2006 and 2007, a booming of PPL did not encourage a large GDP growth movement. This is one of the sign of a potential sudden reversal. In 2008, following a global financial crisis, a correction was made, while 300 million US Dollars of capital outflow from the previous Portfolio holders in 2008 followed by a slowing 4.6% GDP growth in the next year. Until 2011 PPL have shown a strong upward movement in the middle of spreading crisis (to Europe), while GDP still maintain its regular 6.4% growth. Assume that GDP growth can represent the real performance of economy as well as PPL represent the expected performance of economy, then the gap between them might be a sign of a future correction.



 Publish at BKF-Kemenkeu



1.29PM WIB
Saat jadi konsultan di PKEM(Pus.Kebijakan Eko.Makro)

Comments

Popular posts from this blog

Ketidakpastian Global Dinilai Tak Ganggu Capital Inflow ke Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Ketidakpastian global beserta perlambatan ekonomi dunia tahun ini diyakini tidak banyak mengganggu aliran modal asing masuk ke negara-negara berkembang atau emerging markets seperti Indonesia. Berdasarkan Laporan Perekonomian Terkini Bank Indonesia, sejumlah strategi pelonggaran kebijakan moneter hampir di seluruh belahan dunia belum membuahkan hasil bagi perbaikan ekonomi dunia. Laporan itu memerinci, ketegangan ekonomi akibat perang dagang membuat rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini hanya akan mencapai 3,0% (yoy) dari tahun sebelumnya 3,6% (yoy) berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF). Adapun perbaikan diyakini mulai terjadi pada 2020 dengan perkiraan naik tipis 3,1% (yoy). Sementara itu, Bank Indonesia sendiri masih cukup optimistis memprakirakan ekonomi dunia tahun ini bisa mencapai 3,2% (yoy), dan akan membaik atau rebound pada 2020 menjadi 3,3% (yoy). Kondisi tersebut dipicu oleh menurunnya volume perdagangan dunia, alhasil ...

CDS Indonesia kembali naik dipicu situasi politik dalam negeri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sentimen global masih kuat menekan persepsi risiko investasi Indonesia bergerak ke level yang semakin buruk. Apalagi, kondisi politik dalam negeri yang memanas juga turut mengikis kepercayaan investor asing. Mengutip Bloomberg, indeks persepsi risiko atau Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun berada di level 108,75 pada perdagangan, Jumat (24/5). Dalam sepekan level tersebut naik 3,46 basis poin dan semakin meninggalkan level terendahnya di 82,40 sejak Maret lalu. Kompak, CDS Indonesia tenor 10 tahun juga cenderung naik ke level 183,00 pada perdagangan Kamis (23/5). CDS 10 tahun ini juga semakin meninggalkan level terendahnya di 157,85 sejak April lalu. Sekadar informasi, level CDS yang semakin tinggi menunjukkan kekhawatiran investor asing terhadap investasi di pasar Indonesia semakin tinggi. Research Analyst Capital Asset Management Desmon Silitonga mengatakan kondisi politik dalam negeri yang sempat memanas memang mempengaruhi level CDS ja...

PR Otoritas Fiskal dan Moneter Pasca Paket Kebijakan Ekonomi

Sinyal positif mulai disebarkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia seiring dengan paket kebijakan ekonomi I dan II yang telah diumumkan pada 9 dan 29 September lalu. Walaupun dinilai agak terlambat, namun setidaknya paket kebijakan yang diumumkan mulai menampakkan arah yang jelas, utamanya dalam mendorong perekonomian di sisi penawaran (supply side). Disamping itu, integrasi sisi fiskal dan moneter yang dalam satu tahun belakangan terlihat kurang padu, mulai memperlihatkan keselarasan bauran kebijakan sesuai dengan daya jangkaunya masing-masing. Walaupun begitu, baik pemerintah dan Bank Indonesia masih menyisakan beberapa pekerjaan rumah (PR) guna mendorong perekonomian Indonesia menjadi lebih inklusif dan berkesinambungan. PR Bagi Otoritas Fiskal Dari sisi pemerintah (atau dari sisi fiskal), paket kebijakan diwarnai oleh deregulasi utamanya bagi sektor investasi. Sayangnya, sepertinya hal ini baru akan berdampak dalam jangka menengah-panjang. Ini dikarenakan deregulasi lebih diarahka...