Skip to main content

COICOP Classification


Kalisifikasi Umum Yang Digunakan UN Dalam Klasifikasi Produk

Salah satu kegunaannya; untuk menghitung Inflasi

COICOP

(Classification of Individual Consumption According to Purpose)

Click on any code to see more detail. Click here for top level only.
  • 01-12 - Individual consumption expenditure of households
  • 01 - Food and non-alcoholic beverages
    • 01.2 - Non-alcoholic beverages
  • 02 - Alcoholic beverages, tobacco and narcotics
    • 02.1 - Alcoholic beverages
  • 03 - Clothing and footwear
  • 04 - Housing, water, electricity, gas and other fuels
    • 04.1 - Actual rentals for housing
    • 04.2 - Imputed rentals for housing
    • 04.3 - Maintenance and repair of the dwelling
    • 04.4 - Water supply and miscellaneous services relating to the dwelling
    • 04.5 - Electricity, gas and other fuels
  • 05 - Furnishings, household equipment and routine household maintenance
    • 05.1 - Furniture and furnishings, carpets and other floor coverings
    • 05.2 - Household textiles
    • 05.3 - Household appliances
    • 05.4 - Glassware, tableware and household utensils
    • 05.5 - Tools and equipment for house and garden
    • 05.6 - Goods and services for routine household maintenance
  • 06 - Health
    • 06.1 - Medical products, appliances and equipment
    • 06.2 - Outpatient services
    • 06.3 - Hospital services
  • 07 - Transport
    • 07.1 - Purchase of vehicles
    • 07.2 - Operation of personal transport equipment
    • 07.3 - Transport services
  • 08 - Communication
    • 08.1 - Postal services
    • 08.2 - Telephone and telefax equipment
    • 08.3 - Telephone and telefax services
  • 09 - Recreation and culture
    • 09.1 - Audio-visual, photographic and information processing equipment
    • 09.2 - Other major durables for recreation and culture
    • 09.3 - Other recreational items and equipment, gardens and pets
    • 09.4 - Recreational and cultural services
    • 09.5 - Newspapers, books and stationery
    • 09.6 - Package holidays
  • 10 - Education
    • 10.1 - Pre-primary and primary education
    • 10.2 - Secondary education
    • 10.3 - Post-secondary non-tertiary education
    • 10.4 - Tertiary education
    • 10.5 - Education not definable by level
  • 11 - Restaurants and hotels
    • 11.1 - Catering services
    • 11.2 - Accommodation services
  • 12 - Miscellaneous goods and services
    • 12.1 - Personal care
    • 12.2 - Prostitution
    • 12.3 - Personal effects n.e.c.
    • 12.4 - Social protection
    • 12.6 - Financial services n.e.c.
    • 12.7 - Other services n.e.c.
  • 13 - Individual consumption expenditure of non-profit institutions serving households (NPISHs)
    • 13.3 - Recreation and culture
    • 13.5 - Social protection
    • 13.6 - Other services
  • 14 - Individual consumption expenditure of general government
    • 14.3 - Recreation and culture
    • 14.5 - Social protection


Comments

Popular posts from this blog

Ketidakpastian Global Dinilai Tak Ganggu Capital Inflow ke Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Ketidakpastian global beserta perlambatan ekonomi dunia tahun ini diyakini tidak banyak mengganggu aliran modal asing masuk ke negara-negara berkembang atau emerging markets seperti Indonesia. Berdasarkan Laporan Perekonomian Terkini Bank Indonesia, sejumlah strategi pelonggaran kebijakan moneter hampir di seluruh belahan dunia belum membuahkan hasil bagi perbaikan ekonomi dunia. Laporan itu memerinci, ketegangan ekonomi akibat perang dagang membuat rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini hanya akan mencapai 3,0% (yoy) dari tahun sebelumnya 3,6% (yoy) berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF). Adapun perbaikan diyakini mulai terjadi pada 2020 dengan perkiraan naik tipis 3,1% (yoy). Sementara itu, Bank Indonesia sendiri masih cukup optimistis memprakirakan ekonomi dunia tahun ini bisa mencapai 3,2% (yoy), dan akan membaik atau rebound pada 2020 menjadi 3,3% (yoy). Kondisi tersebut dipicu oleh menurunnya volume perdagangan dunia, alhasil ...

CDS Indonesia kembali naik dipicu situasi politik dalam negeri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sentimen global masih kuat menekan persepsi risiko investasi Indonesia bergerak ke level yang semakin buruk. Apalagi, kondisi politik dalam negeri yang memanas juga turut mengikis kepercayaan investor asing. Mengutip Bloomberg, indeks persepsi risiko atau Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun berada di level 108,75 pada perdagangan, Jumat (24/5). Dalam sepekan level tersebut naik 3,46 basis poin dan semakin meninggalkan level terendahnya di 82,40 sejak Maret lalu. Kompak, CDS Indonesia tenor 10 tahun juga cenderung naik ke level 183,00 pada perdagangan Kamis (23/5). CDS 10 tahun ini juga semakin meninggalkan level terendahnya di 157,85 sejak April lalu. Sekadar informasi, level CDS yang semakin tinggi menunjukkan kekhawatiran investor asing terhadap investasi di pasar Indonesia semakin tinggi. Research Analyst Capital Asset Management Desmon Silitonga mengatakan kondisi politik dalam negeri yang sempat memanas memang mempengaruhi level CDS ja...

PR Otoritas Fiskal dan Moneter Pasca Paket Kebijakan Ekonomi

Sinyal positif mulai disebarkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia seiring dengan paket kebijakan ekonomi I dan II yang telah diumumkan pada 9 dan 29 September lalu. Walaupun dinilai agak terlambat, namun setidaknya paket kebijakan yang diumumkan mulai menampakkan arah yang jelas, utamanya dalam mendorong perekonomian di sisi penawaran (supply side). Disamping itu, integrasi sisi fiskal dan moneter yang dalam satu tahun belakangan terlihat kurang padu, mulai memperlihatkan keselarasan bauran kebijakan sesuai dengan daya jangkaunya masing-masing. Walaupun begitu, baik pemerintah dan Bank Indonesia masih menyisakan beberapa pekerjaan rumah (PR) guna mendorong perekonomian Indonesia menjadi lebih inklusif dan berkesinambungan. PR Bagi Otoritas Fiskal Dari sisi pemerintah (atau dari sisi fiskal), paket kebijakan diwarnai oleh deregulasi utamanya bagi sektor investasi. Sayangnya, sepertinya hal ini baru akan berdampak dalam jangka menengah-panjang. Ini dikarenakan deregulasi lebih diarahka...